Archive for May, 2006

Renungan Singkat

Wednesday, May 31st, 2006

bingkisan doa antum subhanallah ….."kelemahanku adalah sumber kekuatanku", mungkin itu yang bsia ana tangkap , amin ya robba’alamiin …

ana ada sebuah puisi juga,  seorang ikhwan dari surabaya yang memberikannya pada ana

Renungan Singkat Bagi Wanita

Pernikahan atau perkawinan,
Membuka tabir rahasia.

Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad Saw.,
Tidaklah setaqwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Ayyub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf.

Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita,
Membangun keturunan yang soleh ……..

Pernikahan atau perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama.

Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya,
Suami adalah nahkoda kapal, kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, kamu adalah penuntun
kenakalannya,
Saat Suami menjadi raja, kamu nikmati anggur
singgasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, kamulah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah
memperingatkannya..

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,

Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah Swt.,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,

Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam
menjaga,
Pun bukanlah Hajar, yang begitu setia dalam sengsara,
Cuma wanita akhir zaman,
Yang berusaha menjadi solehah…..

Amin.       

Renungan Singkat Bagi Laki-laki

Pernikahan atau perkawinan,
Menyingkap tabir rahasia.

Istri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah.

Justru Istri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita,
Menjadi solehah…

Pernikahan atau perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama.

Istri menjadi tanah, kamu langit penaungnya,
Istri ladang tanaman, kamu pemagarnya,
Istri kiasan ternakan, kamu gembalanya,
Istri adalah murid, kamu mursyidnya,
Istri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya.
Saat Istri menjadi madu, kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Istri menjadi racun, kamulah penawar bisanya,
Seandainya Istri tulang yang bengkok, berhatilah
meluruskannya.

Pernikahan atau perkawinan,
Menginsyafkan kita perlunya iman dan taqwa.
Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah Swt.,

Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,

Kamu bukanlah Rasulullah,
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamallahhuwajhah,

Cuma suami akhir zaman,
Yang berusaha menjadi soleh…

Amin.  

ketika
membaca inipun ana menitikkan air mata, subhanallah betapa inginnya
kita menjadi yang terbaik bagi tuhan, bagi pasangan kita. begitu
mulianya cita2 itu. amin….

ya allah kenalkan aku pada diriku…sehingga aku bisa mengenali diri pasanganku…

Indah, Just the Way you are (Manajemen Kalbu)

Wednesday, May 31st, 2006

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh
megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan
menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa
mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam
tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju
mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku
baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali
pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

"Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari
pasangan kita.

Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan
membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia….."

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang
tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya
mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan
mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat
apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. "Aku akan mulai
duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali
yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai membacakan satu
persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa
airmata suaminya mulai mengalir…..

"Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya. "Oh tidak, lanjutkan…"
jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali
melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia

"Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".

Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun di
kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin
merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku.

Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. "

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta
serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia
menunduk dan menangis…..

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit
hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal
tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.

Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan
dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di
sekeliling kita ? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia
jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba
melupakan yang buruk.

Diterjemahkan dari tulisan : Trevor Klein

Anak Anjing Dijual

Wednesday, May 31st, 2006

Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang
papan iklan yang menarik bagi anak-anak kecil, "dijual anak anjing". Segera saja
seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya "Berapa harga anak
anjing yang anda jual itu?"

Pemilik toko itu menjawab, "Harganya
berkisar antara 30 - 50 Dollar."

Anak lelaki itu lalu merogoh saku
celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, "Aku hanya mempunyai 2,37
Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?"

Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya.
Tak lama dari kandang aning munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti
oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko.
Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang.

Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan
tampak cacat itu. Tanyanya, "Kenapa dengan anak anjing itu?"

Pemilik
toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di
pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.

Anak lelaki itu
tampak gembira dan berkata, "Aku beli anak anjing yang cacat itu."

Pemilik toko itu menjawab, "Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat
itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu."

Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,
"Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak
anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain.
Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35
Dollar. Tetapi setiap hari aku akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga
anak anjing itu."

Tetapi lelaki itu menolak, "Nak, kau jangan membeli
anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain
sebagaimana anak anjing lainnya."

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia
menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki
yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Tuan, aku pun tidak bisa
berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main
sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu
membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya."

Kini pemilik
toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya. Ia tersenyum
dan berkata, "Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai
majikan sebaik engkau."

~~~

Tahukah Teman? Kita memerlukan
seorang rendah hati yang mengaku dan merasa banyak dosa untuk menjadi da’i
empatik…. yang tidak mencela pelaku maksiyat melainkan membimbing mereka
dengan penuh kasih sayang…

Topeng

Wednesday, May 31st, 2006

Jangan terpedaya oleh topeng saya…. dengarlah apa yang tidak saya katakan ….

Jangan
terpedaya dengan saya . Jangan terpedaya oleh topeng yang saya pakai.
Saya memakai seribu topeng, topeng yang saya takut untuk
menanggalkannya, yang tidak satu pun mencerminkan diri saya yang
sebenarnya.

Kepura-puraan adalah satu seni yang sudah menyatu dengan diri saya, maka jangan terpedaya.

Saya
tampak seakan kedudukan saya selamat, semua yang bersama saya bercahaya
dan tenteram, sebagaimana di dalam begitulah di luar …..

rahasia
adalah nama saya dan ketenangan adalah permainan saya ; semuanya
berlaku dengan tenang dan saya merasa serba cukup … saya tidak
memerlukan bantuan siapa pun ….. Tetapi jangan percayakan itu semua ;
tolong jangan …..

Penampilan saya kelihatan halus, tetapi
itu adalah topeng, topeng yang selalu berubah dan sentiasa menutupi
wajah saya yang asli. Yang berlindung dibalik topeng itu adalah
ketidakpuasan hati, ketidaktenteraman dan kegelisahan .

Yang berlindung dibalik topeng itu ialah
diri saya yang asli yang dalam kekeliruan,  ketakutan dan kesunyian.
Tetapi saya sembunyikan diri saya ; saya tidak mau siapa pun
mengetahuinya . saya panik memikirkan kelemahan saya akan terbongkar.
Sebab itulah saya dengan gila mencipta topeng untuk berlindung, sebuah
penampilan menawan untuk membantu saya berpura-pura dan berlindung dari
pandangan mereka yang dapat mengenal saya.

Padahal pandangan yang mengenali diri
saya adalah penyelamat. Itulah satu-satunya yang dapat membebaskan saya
dari diri saya yang telah terpenjara oleh dinding buatan sendiri, dari
halangan yang bersusuh payah saya bangun.

Tetapi saya tidak menyatakan perkara ini kepadamu. Saya tidak suka. Saya takut.

Saya takut pada
pandangan matamu yang tidak diikuti dengan kasih sayang  dan
penerimaan. Saya takut kamu meremehkan saya, kamu akan mentertawakan
saya, dan tawamu mungkin akan membunuh saya.

Saya  takut bahwa
jauh di dalam diri saya , saya tidak berarti apa-apa, saya tidak
berguna, dan kamu akan melihatnya dan menolak saya . Oleh karena itu
saya bergelimang dengan permainan kesukaan saya, kepuraan-puraan dan
berputus asa, dengan kepalsuaan diluar dan seorang kanak-kanak
menggigil  di dalamnya.

Saya
sangat ingin menjadi manusia tulen, bersahaja, dan diri saya sendiri.
Kamu harus menolong saya. Bantulah saya dengan mengulurkan kedua belah
tanganmu, walaupun itulah yang terakhir yang saya perlukan.

Setiap
kali kamu bersikap baik, lembut, dan memberikan dorongan, setiap kali
kamu mencoba memahami saya karena kamu benar-benar prihatin dengan diri
saya. Hati saya mula menumbuhkan sayap . Sayap yang sangat kecil .
Sayap yang sangat lemah. Tetapi sayap itu tetap sayap. Dengan kepekaan
dan simpatimu dan upaya kamu untuk memahami saya, saya mungkin akan
melakukkannya, saya mungkin akan memperbaiki diri.

Kamu mungkin akan menghidupkan kembali jiwa saya yang telah lama berkubur…. tetapi memang tidak mudah bagi kamu melakukannya.

Keyakinan dan
kepercayaan pada sesuatu yang tidak berarti, berupaya membina dinding
yang  teguh. Tetapi kasih sayang lebih teguh daripada dinding, dan
disitulah letak harapan saya . Tolonglah jangan robohkan dinding itu
dengan tangan yang kukuh, tetapi dengan tangan yang lembut kerana di
dalamnya ada seorang kanak-kanak yang sangat sensitif, dan saya ADALAH
seorang kanak-kanak.

Saya memakai topeng karena takut kepada siapa pun … juga kepadamu

Saya begitu ingin terbuka dengan kamu

Tetapi kamu begitu kokoh dan perkasa, sementara aku begitu lemah dan pura-pura.

Sekali
lagi, sentuhlah aku dengan lembut, karena itulah yang akan menolongku
…. jangan runtuhkan benteng itu dengan kekuatanmu ….

Siapa
saya, kamu mungkin heran? Saya adalah orang yang kamu betul-betul
kenal. Saya adalah setiap lelaki, setiap wanita, setiap kanak-kanak�..
Setiap manusia yang kamu temui.

Tertanda ….

Yang tidak bernama

Aku meminta kepada Tuhan bunga yang indah

Wednesday, May 31st, 2006

Aku Meminta kepada Tuhan bunga yang indah,

tetapi diberikan Nya kepadaku kaktus yang buruk dan penuh duri.

 

Aku meminta kepada Tuhan Kupu-kupu yang indah,

tetapi diberikan Nya kepadaku ulat-ulat yang menjijkan dan membuatku ketakutan.

Aku bertanya kepada Tuhan,

mengapa diberikan Nya kepadaku bukan yang aku minta

Tapi tidak ada jawaban dari Nya

 

Tapi setelah beberapa hari, kaktus itu mulai mengeluarkan bunga

yang belum pernah kulihat sebelumnya dan sangat indah sekali.

Lalu dengan ulat-ulat itu, mereka berubah menjadi kepompong

dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang lebih indah dari yang kubayangkan sebelumnya.

 

Memang Jalan Tuhan lebih tinggi dari jalan kita

 

Renungan 3

Wednesday, May 31st, 2006


Lukmanul Hakim berkata kepada puteranya,

"Pilihlah delapan perkataan para Nabi a.s.:

Apabila engkau sedang melakukan shalat, peliharalah hatimu,
Apabila engkau sedang berada di rumah orang lain, peliharalah matamu,
Apabila engkau berada di tengah-tengah manusia, peliharalah mulutmu,
Apabila engkau menghadiri sebuah jamuan, peliharalah orang-orang yang
berada di sekelilingmu,

Ingatlah dua hal, dan lupakanlah dua hal pula.
Adapun dua hal yang harus diingat-ingat
ialah  Allah SWT.
dan mati,
sedangkan dua hal yang harus dilupakan
ialah kebaikanmu kepada orang lain
dan kelakuan buruk orang lain terhadapmu."

[Dari "Nasihat Lukmanul Hakim untuk Generasi Muda",
Titian Ilahi Press, Yogyakarta, 1994]

Doa Yang Selalu Dikabulkan

Wednesday, May 31st, 2006
DOA YANG SELALU DIKABULKAN  (Helvy Tiana Rosa) 

 Pagi itu, 3 Mei 1998, dari Jakarta, saya diundang mengisi seminar di IAINSunan Gunung Djati, Bandung.  Saya duduk di bangku kedua dari depan sambilmenunggu kedatangan pembicara lain, Mimin Aminah, yang belum saya kenal. Jam sembilan tepat, panitia menghampiri saya dan memperkenalkan ia yangbaru  saja tiba. Saya segera berdiri menyambut senyumnya yang lebih dulumerekah. Ia seorang yang bertubuh besar, ramah, dalam balutan gamis biru dan jilbabputih yang cukup panjang. Kami berjabat tangan erat, dan saat itu tegasdalam pandangan saya dua kruk (tongkat penyangga yang dikenakan-nya) sertasepasang kaki lemah dan kecil yang ditutupi kaos kaki putih. Sesaat batinsaya hening, lalu melafazkan kalimat takbir dan tasbih. Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya bahagiakarena para peserta tampak antusias. Begitu juga ketika giliran Mimin tiba. Semua memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikannya. Kata-kata yangdikemukakannya indah dengan retorika yang menarik. Wawasannya luas,pengamatannya akurat. Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkatadengan nada datar. "Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidupsaya." Ia tersenyum. "Saya lahir dalam keadaan seperti ini. Mungkin banyak orangakan pesimis menghadapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telahmemohon sesuatu pada Allah. Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya,tak ada yang diingat dan disebutnya kecuali Allah," Ia terdiam sesaat dankembali tersenyum. "Ya, agar mereka ingat Allah saat menatap saya. Itusaja." Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. "Saya kuliahdi Fakultas Psikologi," katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman priadan wanita di Universitas Islam Bandung-tempat kuliahnya itu-senantiasabergantian membantunya menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai duaatau tiga. Bahkan mereka hafal jam datang serta jam mata kuliah yangdiikutinya. "Di antara mereka ada yang membawakan sebelah tongkat saya, adayang memapah, ada juga yang menunggu di atas," kenangnya. Dan civitas academica yang lain? Menurut Mimin ia sering mendengar orangmenyebut-nyebut nama Allah saat menatapnya. "Mereka berkata Ya Allah,bisajuga ya dia kuliah," senyumnya mengembang lagi. "Saya bahagia karena merekamenyebut nama Allah. Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah,keluarga, kerabat atau teman kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allahmemang Maha Besar. Begitu kata mereka." Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah ber-mimpi akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya. "Kita tahu,terkadang orang normal pun susah mendapatkan jodoh, apalagi seorang yangcacat seperti saya. Ya tawakal saja." Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan normal melamarnya. "Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyakorang menyebut-nyebut nama Allah dengan takjub. Allah itu maha kuasa, ya.Maha adil! Masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya," ujarnya penuhsyukur. Saya memandang Mimin dalam. Menyelami batinnya dengan mata mengembun.  "Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yangtak men-genal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah. Ketika saya hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter untuk operasi. Bagaimana pun saat seorang ibumelahirkan otot-otot panggul dan kaki sangat berperan. Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah berkehendak semua akanmenjadi mudah. Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar dibantu bidan,"pipi Mimin memerah kembali. "Semua orang melihat saya dan mereka mengingatAllah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang." Hening. Ia terdiam agak lama.  Mata saya basah, menyelami batin Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur sayateramat dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergapseluruh keberadaan saya. Saya belum apa-apa.  Yang selama ini telah sayalakukan bukanlah apa-apa. Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduksebagai pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, sayamenahan airmata di atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saatmemandang saya, seperti saat mereka memandang Mimin? Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan sayamasih kabur. Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur kepelukannya.  Wajah teduh Mimin tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya  berusaha membelai kepala si anak. Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya suka. Ya, Allah betapa banyakkenikmatan yang Kau berikan padaku.  Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapadiamen-cintai saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh ronggajiwa saya. "Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberipelajaran pada saya dari pertemuan dengan hambaMu ini. Kekalkanlahpersaudaraan kami di Sabilillah. Selamanya. Amin." Mimin benar.  Memandangnya, saya pun ingat padaNya. Dan cinta saya padaSang Pencipta, yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal. ("Pelangi Nurani" Penerbit Asy Syaamil, 2002) 

Bola (Positif Negatif)

Wednesday, May 31st, 2006

Piala Dunia sudah hampir dimulai, demam bola semakin timbul seiring piala dunia itu. Masih ada berbagai even yang akan terus membuat bola menjadi salah satu agenda para aktivis.

Ustadz Mahmud Syanthut dalam buku Tarbiyah ‘Askariyah sudah mengingatkan agar para pemuda Islam tidak membiasakan diri dalam olahraga-olahraga permainan seperti sepak bola, basket, volley dan sebagainya. Alasan beliau (kalau tidak salah; karena saya membaca buku ini sekitar 10 tahun yang lalu), olahraga itu cenderung membuat "pemuda" tidak lagi segagah mujahid melainkan menjadi "kewanita-wanitaan".

Sebagai gantinya, Ustadz memberi alternatif olahraga bela diri, berkemah dan semacamnya yang jelas-jelas memberi semangat jihad dalam arti seutuhnya.

BTW, pernah ada seorang ikhwah yang diminta mengisi pengajian kelas di STAN. Dia mengisi dengan illustrasi bola. Materi yang dia bawakan bertema "Indahnya Kebersamaan", dan beliau bertolak dari innamal mu’minuuna ikhwah.

Yang menarik, beliau kemudian membelokkan ilustrasi ke bola sehingga sambutan audiens menjadi luar biasa hangat. Menurut beliau, kebersamaan dalam sepak bola bisa diambil dari ibrah sbb:

1. Jelasnya visi-misi. Visinya menjadi juara, misinya memasukkan gol ke gawang lawan. Visi-misi yang sangat jelas ini membuat tidak ada pemain yang ragu, was-was dan setengah-setengah dalam bermain. Alangkah baiknya jika semua muslim memiliki visi-misi yang sangat jelas; misalnya visi: surga dan ridha Allah; misi: ibadah sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

2. Semangat juang yang tinggi untuk menjebol gawang lawan dan mati-matian membela gawang sendiri. Dapat diibrahkan ke jihad total lewat semua jalur yang bisa diakses: pertempuran fisik, perang teknologi, informasi, media massa, sosial, politik ekonomi dan sebagainya.

3. Kejelasan siapa lawan siapa kawan. Betapa memalukan seorang pemain yang jago tetapi tidak tau siapa kawan-lawan. Mungkin dia bisa mencetak 20 gol, tetapi 18 ke gawang sendiri! Perumpamaannya adalah ikhwah yang asyik memusuhi saudara seakidah dan lupa melawan musuh-musuh sejati: syaithan, thaghut, Zionisme, kristenisasi dan sebagainya.

4. Mengapa piala dunia ditonton ribuan/jutaan/milyaran manusia? Karena mutunya bukan kualitas sepak bola biasa. Seandainya "Liga BEM STAN" dipromosikan dengan luar biasa dan disiarkan oleh seluruh stasiun tv, peminatnya tidak akan sampai ratusan/ribuan. Lihatlah mutu perjuangan Osama bin Laden, Ahmad Yasin dan sebagainya dan bandingkan dengan mutu perjuangan kita.

5. Kejayaan itu sering kali seperti kemenangan dalam piala dunia. Tidak ada yang menyangka Senegal bisa melaju sampai akhirnya diganjal Turki, Prancis yang dengan mudah dikalahkan dan sebagainya. Demikian pula perjuangan: kadang umat Islam berjaya dan memegang kendali dunia, kadang pula umat kafir berjaya dan membuat kebenaran begitu sulit dipertahankan: seperti menggenggam bara.

Saya melihat kecairan suasana dalam kekentalah taushiyah beliau. Di depan mhs-mhs yang belum begitu terwarnai shibghatullah, beliau dengan enak membicarakan jeleknya bercelana pendek, pacaran, mengajak boikot Coca-Cola-Nestle-Danone dsb. Bahkan ketika panitia menghidangkan Aqua (Danone) beliau bisa menyentil tanpa menjadikan seorangpun merasa tersinggung.

Artinya, ada fenomena positif yang bisa diambil dari momen sepak bola.

Tetapi kita juga tidak boleh menutup mata ada banyak fenomena negatif dari digelarnya Piala Dunia, seperti yang sudah ditulis akh Syu’bani dibawah.

Mungkin yang agak baik adalah mengambil jalan tengah seperti seorang teman. Dia tidak menonton pertandingan, tetapi begitu terdengar teriakan goal dia langsung berlari mendekati televisi: menyaksikan replay proses goal yang seringkali begitu indah. Kemudian kembali ke meja kerjanya, sampai akhirnya terdengar teriakan-teriakan histeris lagi dan dia kembali meninggalkan mejanya sebentar. "Kerja jalan; isu tidak ketinggalan"

Wallahu a’lam bish shawab, mudah-mudahan bermanfaat.

Renungan 2

Wednesday, May 31st, 2006

Kuburan itu tempat kita yang mau atau tidak mau, kita pasti akan menempatinya.

Karena itu, janganlah kita tertipu oleh gemerlapnya kehidupan duniawi yang serba mempesona sehingga terlena dan lupa kepada kehidupan akhirat yang sudah pasti kita akan jalani cepat atau lambat.

Diriwayatkan bahwa jika ruh telah berpisah dengan jasad, maka akan ada seruan dari langit dengan tiga teriakan : Hai anak Adam (manusia) apakah engkau telah meninggalkan Dunia ataukah Dunia telah meninggalkanmu? Apakah engkau telah mengumpulkan Dunia ataukah Dunia telah mengumpulkanmu? Apakah engkau telah membunuh Dunia ataukah Dunia telah membunuhmu?

Jika jenazah telah diletakkan dipemandian, maka ada beberapa teriakan dari langit :"Wahai anak Adam (manusia) mana jasadmua yang kuat itu"Ah,alangkah lemahnya sekarang. Mana lidahmu yang lantangitu? Ah,alangkah gagunya sekarang.Mana sahabat-sahabatmuyang karib itu? Ah,alngkah sepinya sekarang

Jika jenazah telah dibungkus dengan kain kafan, maka ada seruan dari langit dengan tiga teriakan : Hai anak Adam, berbahagialah engkau jika engkau disertai ridho Allah SWT. Dan celakalah engkau jika engkau disertai murka Allah SWT.
Hai anak Adam, berbahagialah engkau jika syurga sebagai tempat tinggalmu dan celakalah engkau jika neraka sebagai tempat tinggalmu.

Hai anak Adam, Engkau telah berangkat untuk suatu perjalanan yang sangat jauh tampa bekal, telah meninggalkan rumahmu dan tidak akan kembali selama-lamanya, kemudian Engkau akan menempati rumah kesengsaraan yang penuh penderitaan.

Jika jenazah telah diusung diatas keranda, ada seruan dari langit dengan teriakan: "Hai anak Adam, berbahagailah engkau jika amal-amalmu baik, berbahagialah engkau jika engkau bertobat dan berbahagialah engkau jika engkau orang yang thaat kepada Allah SWT.

Dan jika jenazah telah diletakkan untuk dishalatkan, maka ada seruan dari langit dengan tiga teriakan : "Hai anak Adam, semua amal yang telah Engkau perbuat di Dunia, engkau akan melihatnya secara nyata sekarang, jika amalmu baik, maka engkau akan melihatnya (menjumpainya ) baik, dan jika amalmu buruk maka engkau akan melihatnya buruk.

Jika jenazah sudah diletakkan di tepi lubang kubur, maka ada seruan sebanyak tiga teriakan : "Hai anak Adam, apakah engkau telah mencari harta seumur hidupmu untuk kebinasaan seperti ini? Apakah engkau telah mencari kekayaan untuk kemiskinan semacam ini? Apakah engkau telah mensia-siakan cahaya yang terang benderang di Dunia untuk suatu alam yang gelap gulita seperti ini?

Jika jenazah telah diletakkan diliang lahat, maka ada seruan dengan tiga teriakkan dari bumi : "Hai anak Adam, dahulu kau berada di punggungku tertawa ria, kini engkau berada diperutku menangis tersedu-sedu. Dahulu engkau berada dipunggungku gembira ria, kini engkau berada diperutku diliputi kesedihan yang tiada habis-habisnya. Dahulu engkau di punggungku bercakap-cakap seenaknya, kini engkau berada diperutku dalam keadaan membisu.

Hari ini aku jatuh cinta

Tuesday, May 23rd, 2006

"Hari ini aku jatuh cinta”.

Ya, hanya satu kalimat singkat itu yang
hendak aku teriakkan keras-keras, agar semua orang tahu bahwa aku sedang jatuh
cinta. Kalau perlu para malaikat diatas sana pun ikut tersenyum mendengar
teriakan-teriakan cinta dariku ini. Tak mengapa orang akan terheran
mengernyitkan dahinya mempertanyakan perihal jatuh cintaku ini. Bahkan baru saja
teman sebelah meja di kantorku mengatakan aku sedang gila, masak sudah punya
suami jatuh cinta lagi …

Ha ha, aku tertawa kecil. Biarlah orang
menganggap aku gila, bukankah cinta dan gila hampir tidak ada bedanya? Tak
peduli orang berkata apa, karena jatuh cintaku ini bukan dengan pria lain,
melainkan dengan suamiku sendiri. Pasti Anda bertanya, kenapa baru sekarang
jatuh cinta? Apakah sebelumnya tidak pernah jatuh cinta?

Empat tahun
usia pernikahan memang masih dibilang seumur jagung, belum terlalu banyak
kegetiran yang membenalui kasih sayang sepasang suami istri. Masih seruas jemari
kelingking ukuran pahit bersamaan dengan manisnya perjalanan cinta. Tapi harus
diakui, segala rutinitas keseharian seringkali menyita waktu-waktu bersama yang
mau tidak mau terpaksa dikorbankan. Belum lagi extra time yang tercuri untuk
aktifitas sosial diluar kerja harian, membuat kami kehilangan kesempatan untuk
mencurahkan cinta. Bahkan untuk sekedar sarapan pagi bersama sebelum
masing-masing antara kami berangkat ke kantor sesaat ayam baru saja bersuara,
hanya karena takut terjebak kemacetan kota yang tidak akan pernah bisa
dihindari.

Tetapi, hari ini aku jatuh cinta (lagi) …

Salah jika
Anda menebak, bahwa kemesraan malam tadi yang membuai kami dalam kehangatan
hingga pagi hari yang telah membuatku begitu bahagia semenjak pagi tadi. Tentu
saja Anda juga terlalu mengira-ngira menganggap serbuan ungkapan cinta suamiku
yang bertubi-tubi yang menjadikan diri ini teramat bergairah sepanjang hari ini.
Perlu anda tahu, semua wanita tahu, kata cinta bukan segalanya dan takkan pernah
berarti apapun tanpa sedikitpun sentuhan. Tapi, ini bukan pula soal sentuhan …
Dan bisa dipastikan bukan karena semalam sebelum semuanya berlangsung begitu
mesra dan mempesonakan, kami pergi ke sebuah tempat makan romantis untuk
merayakan hari jadiku, termasuk sebuah kotak hadiah yang belum sempat kubuka
sampai hari ini karena terlalu sayang untuk merusak bungkus pink berhias bunga
Rose diatasnya yang dirangkai dengan pita berwarna putih.

Ternyata, aku
tak memerlukan jutaaan ungkapan cinta untuk bisa sesenang hari ini. Tak juga
harus menyita waktu suamiku berjam-jam untuk menemaniku dan memberikan
kehangatannya disatu malam tertentu. Bahkan materi. Tak sepeserpun yang harus
dikeluarkannya untuk bisa menciptakan kegairahan cinta seperti saat ini. Ia
hanya perlu sedetik. Ya, hanya sedetik saja …

Dan itu tercipta ketika,
entah secara sadar atau tidak dia kembali menyapaku penuh lembut, “yang ti …”
(Panggilan ’sayang’ yang disingkat, diimbuhi potongan namaku).

Anginpun
berhembus mesra menyentuh kulit halus telingaku. Seketika sekujur tubuh ini
seperti baru saja tertimpa kesejukan padang ilalang nan menghijau.

Namaku Titi, semua orang mulai dari Papa, Mama dan teman-teman selalu
memanggilku Titi. Tapi sejak pertama kali kami bertemu, saat menjelang kami
menikah, dan setahun pertama menikah, lelaki romantis itu selalu memanggilku,
“yang ti”. Dan malam tadi dia kembali menyebutkan panggilan kesayangan itu
setelah hampir dua tahun tak pernah terngiang di telingaku.

“yang ti …”.

Ah, rasanya baru saja kemarin kami melewati malam pertama.

============================================= DARI email teman yg
kukumpulkan…
kangen deh..dah lama gak ketemu
sudah lama juga tidak
berkirim email..
dimana skr dirimu? bagaimana
kabarmu?
kangen…

Sumber: kubuka inbox
yg lama emailku (kangen sama sahabatku)