Archive for June, 2006

Suamiku, Pilih Aku atau Ibumu…!!

Thursday, June 22nd, 2006

Sumber DSH net
Oleh: atik (jember)

“Kalau Mas jadi cowok itu dan ditanyai oleh si Gadis ..apa jawaban Mas ? “ tanyaku bernada mendesaknya.

“Ingat..Jawaban Mas harus jujur !” tambahku menambah tegang raut mukanya. Pagi itu ..aku melanjutkan keusilanku. Menggodanya saja sebenarnya. Tapi tak kusangka suami begitu tegang ‘hanya’ untuk memberikan jawaban atas pertanyaanku.

Malam itu..aku cerita tentang sebuah film produk Hongkong yang kulihat siangnya di komputer kantor lewat Network Places. Film itu bercerita tentang petualangan seorang gadis mencari pasangan (pacar).

Caranya…ia menanyakan kepada setiap laki-laki yang berminat kepadanya, sebuah pertanyaan yang sama. Sebuah Pilihan. Dari jawaban itu lah yang akan dijadikan pegangan oleh si Gadis memilih laki-laki yang akan menjadi pacarnya.

Pertanyaan itu, berisi sebuah cerita, “Jika kita bertiga, Aku, Kau dan Ibumu berperahu di danau…kemudian perahu yang kita tumpangi tenggelam, mana yang akan engkau tolong ?” tanya si Gadis. “Aku..ataukah Ibumu ?” pilihan itu yang diajukan.

Aku keusilan, pertanyaan itu aku ajukan kepada suami. Seandainya pertanyaan itu diajukan kepadanya, dan si Gadis itu aku..apa jawaban Mas ? Begitu desakku. Aku melihat wajah suami tiba-tiba saja menjadi tegang. Matanya tidak berani menatapku. Dan dengan keahliannya..dia belokkan diskusi kami ke topik lain, dan dia berhasil.

Tapi..pagi harinya, ketika dia membantuku mengupas bawang bawang merah..pertanyaan itu aku tagih kembali. Kulihat dia salah tingkah. Dan..terus terang aku menikmati keusilanku. hehehe.jarang-jarang sih..aku sukses ngusilin dia. Aku kalah usil dengannya.

Karena desakanku, akhirnya suami menjawab juga akhirnya. Dan itu pun..dengan suara yang amat tegang. “Aku pilih menyelamatkan Ibuku…Monggo kalau mau ditanggapi..” katanya pasrah.

Sebenarnya, aku sadar apa yang akan dipilih suamiku. Dia memang kudesak untuk berkata dengan jujur. Melihat kedekatannya dengan Ibu Mertuaku..wajar kalau dia memilih Ibunya. Dari awal aku memang sudah menyadari. Walaupun ada yang berdesir di hatiku, tapi kupikir..penyakit itu ..toh aku yang nyari sendiri. Salahku sendiri..mendesaknya untuk mengatakannya. Padahal dia baru beberapa hari saja mengenalku.

Menyadari suasana berubah menjadi sangat kaku..aku memilih untuk melanjutkan cerita film itu. Tidak mengomentari apa jawaban suami.

“Aku tertarik dengan jawaban cowok yang akhirnya dipilih oleh si Gadis sebagai kekasihnya itu. “ Kataku melanjutkan cerita. “Dia mengatakan…Aku memilih menyelamatkan Ibuku, karena dia sudah tidak kuat lagi berenang, sedangkan engkau, masih sangat muda, kuat..dan aku percaya pasti akan selamat berenang ke tepian. Ketika kita semua selamat ke tepian, kita akan bangun semua kembali, dan kita semua akan bahagia.”

“Githu ceritanya Mas..”kataku sambil tersenyum. “Sama dong dengan jawabanku tadi..”kata suami menanggapi. “ Jawaban nya memang sama..tapi dengan disertai alasan yang tepat, akan menentukan apa reaksi yang akan di terima.”

“Menurutku, jawabannya indah..menunjukkan rasa cinta si cowok kepada Ibunya, tapi juga kepada si wanita. Dia percaya akan kemampuan si cewek dan dia mempercayai itu. Jawaban bahwa ia memilih menyelamatkan Ibunya..bukan karena dia lebih cinta kepada si Ibu..tapi dia percaya kemampuan si cewek. Dia mencintai keduanya.” terangku dan sepertinya suami menerima argumenku.

Sering kita lihat fenomena ..perseteruan antara Mertua dan Menantu karena beda perlakuan suami. Tidak tawazun. Baik si Ibu atau si Istri..memandang Laki-laki ini menuangkan cintanya secara tidak seimbang. Menurutku..itu tantangan Laki-laki.

Dalam Islam..kita ketahui..bahwa anak laki-laki selamanya adalah milik Ibunya. Ibunya berhak atas diri dan hartanya, selamanya. Tetapi di sisi lain..Islam juga mengajarkan bahwa sebaik-baik laki-laki adalah yang bisa bersikap baik terhadap istrinya. Tuntutan itu sama besar. Harus disadari dari awal sebelum memasuki pintu pernikahan.

Di pihak laki-laki, harus disadari..kecemburuan antara keduanya (istri dan ibu) memang mudah untuk timbul. Karena wanita sering menggunakan perasaannya dalam memandang sesuatu. Wanita..sering memandang istri atau Ibu..bukan lagi sebagai kedudukannya,..tetapi sebagai wanita. Jadi persaingannya adalah kecemburuan antara dua wanita, bukan sebagai istri dan ibu lagi. Itu perlu disadari. Adalah tantangan bagi suami untuk bisa bersikap tawazun.

Sedangkan bagi istri, adalah perlu disadari bahwa, suami adalah milik Ibunya selamanya. Ibu memang berhak atas harta dan dirinya. Adalah kewajiban kita..mendorongnya untuk lebih berbakti kepada orang tuanya. Dengan pernikahan (yang tentunya atas restu ibunya) sudah seharusnya menjadikan suami menjadi sosok anak yang lebih berbakti kepada Ibunya. Semoga salah satu pintu surga terbuka karena baktinya itu. Itu tantangan kita …sebagai seorang istri.

Memang sulit..karena semua melibatkan perasaan. Dan banyak yang mengakui..memahami perasaan wanita, tidaklah semudah mengukur kedalaman lautan. Tapi..aku termasuk yang percaya, sesulit apapun itu..baik bagi si istri, atau suami..dengan tarbiyah yang selalu kita lakukan, selalu bersama saudara seiman kita (yang selalu setia mengingkatkan khilaf kita) kita insyaAllah pasti bisa ! Yang semoga akan berbuah kebaikan di dunia dan akhirat kita.
Amien !

Wallahu’allam bishowab !

===========================)I( )I( )I( ==========================

teriring doa buat suamiku..semoga Allah senantiasa membimbingmu..tuk jadi suami yang baik sekaligus anak yang berbakti pada Ibu..amien !

Ibunda, Mengapa Engkau Menangis

Thursday, June 22nd, 2006

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?”Sang ayah menjawab,”Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,”Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa. Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya.Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup.

Selalu Ada Sisi Baik

Wednesday, June 21st, 2006

Di sebuah kepulauan tropis yang hangat
hiduplah seorang Raja yang dibantu seorang Perdana Menteri yang sangat
optimis. Perdana Menteri ini juga sangat positif sehingga seringkali
sang Raja merasa jengkel karena selalu saja ia mampu menemukan sisi
positif dari setiap keadaan.

Pada suatu hari, Raja dan Perdana Menteri sedang melakukan
perjalanan melintasi hutan lebat. Di tengah perjalanan sang Raja
beristirahat sambil membelah buah kelapa sebagai pelepas dahaga. Ketika
sedang enak-enaknya makan buah kelapa tanpa sengaja sang Raja menggigit
batok kepala yang keras itu sehingga giginya terlepas. Ia menjerit
kesakitan lalu menyampaikan kesialannya pada Perdana Menteri. Mendengar
keluhan sang Raja, Perdana Menteri ini malah tersenyum sambil
berteriak, “Wow, itu bagus…!” … “Ha! Kenapa kamu berkata seperti itu?”
tanya sang Raja keheranan. “Ya, karena itu adalah pertanda
keberuntungan untuk Baginda.” Mendengar jawaban ini sang Raja menjadi
sangat marah. bagaimana mungkin seorang Perdana Menteri malah
menganggap lucu penderitaan seorang rajanya? “Baginda, mohon dengarkan
saya,” desak Perdana Menteri, “di balik setiap kejadian yang tidak
mengenakkan selalu terdapat sisi baik yang tidak kita lihat.” “Cukup!
Ini sudah keterlaluan!” Kini sang Raja menjadi murka. Ia lalu menangkap
dan mengikat Perdana Menteri. Kemudian dimasukkan ke dalam sumur
kering. Sang Raja akan menjemputnya nanti sepulang dari perjalanannya.
Sang Raja melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan cukup jauh sang Raja dihadang oleh sekelompok suku
liar yang sedang mencari orang untuk dikurbankan pada dewa Gunung Api.
Begitu suku liar ini mengetahui bahwa yang ditangkap adalah seorang
Raja, mereka sangat senang dan membawanya ke pemimpin upacara. Lalu,
suku liar ini mempersiapkan sesajian dan merias Raja ini dengan pakaian
kurban yang indah.

Ketika hendak dikurbankan dan algojo siap memenggal leher sang Raja,
sang pemimpin berteriak menghentikan semuanya. Ia melihat ternyata ada
satu gigi sang Raja yang telah tanggal. “Kami tidak bisa menggunakan
engkau sebagai kurban, karena Dewa Gunung Api hanya berkenan menerima
kurban yang tubuhnya lengkap. Kamu boleh pergi sekarang!” Sang Raja
merasa sangat bersyukur. Ia pun lari cepat-cepat meninggalkan suku liar
itu.

Tiba-tiba ia teringat apa yang dikatakan oleh Perdana Menterinya,
bahwa memang benar-benar adasisi keberuntungan dari sesuatu yang
dianggapnya sebagai kesialan. Bergegas sang Raja pulang. Di perjalanan
pulang ia menjenguk Perdana Menterinya yang masih tertinggal dalam
sumur kering. Ketika melongok ke dalam sumur, sang Raja melihat Perdana
Menterinyamasih terikat rapat dan sedang tersenyum gembira.

“Wow..! Perdana Menteri ini benar-benar seorang yang berpikiran positif..!”

Sang Raja menolong Perdana Menteri itu keluar dari sumur dan meminta
maaf dari segala apa yang dilakukan padanya. “Aku minta maaf telah
melemparmu ke dalam sana!” kata sang Raja sambil memegang bahu Perdana
Menterinya. Kemudian sang Raja menceritakan apa yang dialaminya. “Aku
ditangkap oleh suku liar di sana yang bermaksud mengurbankanku pada
Dewa Gunung Api. Tapi mereka melihat ada sebuah gigiku yang lepas lalu
mereka melepasku. Bukankah ini suatu keajaiban! Sewaktu kau mengatakan
hal itu, aku sangat tidak percaya. Malah membuangmu ke dalam sumur itu!
Maukah kau memaafkanku?” “Ah, Baginda tak perlu meminta maaf,” jawab
Perdana Menteri itu sambil tersenyum.

“Bukankah itu juga adalah sebuah keberuntungan dan berkah bagi hamba
karena Baginda telah melempar hamba ke dalam sumur” “Ha..? Sekarang
berkah apa yang bisa kau tarik dari kejadianmu itu?” tanya sang Raja
terheran-heran. “Begini Baginda,” jawab Perdana Menteri. “Seandainya
saja hamba tadi pergi bersama Baginda, maka suku liar itu akan
menggunakan hamba sebagai kurban untk Dewa Gunung Api..!” [Devina Jap]

Dua Ekor Singa

Tuesday, June 20th, 2006

Suatu
sore di tengah telaga, terlihat dua orang yang sedang memancing.
Tampaknya, ada ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka
disana. Dengan perahu kecil, keduanya sibuk mengatur joran dan umpan.
Air telaga bergoyang perlahan, membentuk riak-riak air. Gelombangnya
mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang
berjalan beriringan. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah
percakapan.

“Ayah.”

“Hmm..ya..” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada
ujung kailnya yang terjulur. “Beberapa malam ini,” ucap sang anak, “aku
bermimpi aneh. Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang tampak sedang
berkelahi dalam hatiku. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam.
Keduanya sibuk mencakar dan menggeram, seperti saling ingin menerkam.
Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.”

Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu, mulai melanjutkan cerita, “singa
yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti.
Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi
terdengar menenangkan buatku.”

Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir
haluan. “Tapi, Ayah, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku.
Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun
kotor, dan bulu yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.

“Aku bingung, apakah maksud dari mimpi ini. Apakah singa-singa itu
adalah gambaran dari sifat-sifat baik dan buruk yang aku punya? Lalu,
singa yang mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena
sepertinya mereka sama-sama kuat?

Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah
mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda gagah di depannya.
Sambil tersenyum, ayah berkata, “pemenangnya adalah, yang paling sering
kamu beri makan.”

Ayah kembali tersenyum, dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu
hentakan kuat, di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga.
Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang
riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.

***

Teman, begitulah. Setiap diri kita, punya dua ekor “singa” yang
selalu bersaing. Keduanya, memang selalu saling menjatuhkan. Mereka
berusaha untuk menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Pertarungan diantara
mereka, tak pernah tuntas, karena bisa jadi sering terjadi pergantian
pemenang bagi keduanya. Kalah-menang, dalam persaingan macam ini,
layaknya mata koin yang selalu berganti-ganti. Dan kita sering dibuat
bingung, sebab kedua kekuatan baik-buruk ini terlihat sama kuatnya.

Tapi, siapakah pemenangnya saat ini dalam diri Anda? Singa yang
kokoh, dengan bulu-bulu yang teratur, dan gerakan yang mantap serta
pasti, ataukah singa yang sibuk menerjang kesana kemari, dengan
bulu-bulu yang koyak, dan seringai yang menakutkan? Lalu, singa macam
apa yang kini sedang menguasai Anda, “singa” yang optimis, pantang
menyerah, tekun, sabar, damai, rendah hati, dan toleran, ataukah
“singa” yang pesimis, tertekan, mudah menyerah, sombong dan penuh
dengki?

Saya percaya, kita sendirilah yang menentukan kemenangan bagi kedua
singa-singa itu. Jika kita sering memberi “makan” pada singa yang damai
tadi, maka imbalan kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Jika kita
terbiasa untuk memupuk optimis dan pantang menyerah, maka “singa”
keberhasilan lah yang akan kita peroleh. Namun sebaliknya, jika setiap
saat kita memendam marah, menebar prasangka dan dengki, bersikap tak
sabar dan mudah menyerah, maka, akan jelaslah “singa” macam apa yang
jadi pemenangnya.

Teman, biarkan “singa-singa” penuh semangat hadir dalam jiwa Anda.
Rawatlah singa-singa itu dengan keluhuran budi, dan kebersihan nurani.
Susunlah bulu-bulu kedamaiannya, cermati terus rahang persahabatannya.
Perkuat punggung optimisnya, dan pertajam selalu kuku-kuku kesabaran
miliknya. Biarkan singa ini yang jadi pemenang.

Namun, jangan biarkan “singa-singa” pemarah menguasai pikiran Anda.
Jangan pernah berikan kesempatan bagi kedengkian itu untuk membesar,
dan menjadi penghalang keberhasilan. Jangan biarkan rasa pesimis, jiwa
yang gundah, tak sabar dan rendah diri menjadi pemimpin bagi Anda.

Saya percaya, imbalan yang kita peroleh, adalah gambaran dari apa
yang kita berikan hari ini. Lalu, singa mana yang akan Anda beri makan
hari ini?

Kisah Burung Pipit

Monday, June 19th, 2006

dari sebuah milis…meski tidak ada referensi ayat, tidak ada salahnya kita ambi hikmahnya :)

KETIKA musim kemarau baru saja mulai. Seekor burung pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat padalingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbangjauh ke utara, mencari udara yang selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara,makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yangmulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju.

Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat di atas burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan memaki maki si kerbau. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira bahwa ia akan mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung.

Begitu bulunya bersih, si burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telahmendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si burung, dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan oleh si kucing.

Hmm… tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini, sesuatu yang acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak selalu lebih hijau; penampilan acap menjadi ukuran; yang buruk acap dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya; dan merasa bangga dengan nikmat yang sekejap. Burung pipit itu adalah cermin yang memantulkan wajah kita…ya, kita sendiri…diri sendiri!

Sarapanku Pagi Ini

Monday, June 19th, 2006

Pagi ini, ketika surya sudah tak malu menampakkan
diri, tanpa ragu kujejakkan langkah pertama kali ke luar rumah menuju kantor.
Berharap hari ini lebih baik dan lebih indah dari sebelumnya. Di beranda depan
seorang teman kos sedang membantu ortunya mengepak barang2 belanjaan mereka
(ortunya datang dari kampung beberapa hari yang lalu dan menghabiskan hari2nya
untuk silaturrahim ke saudara2 di Jakarta, dan belanja tentu). Hari ini hari
terakhir ortunya di Jakarta dan sebelum berpisah mereka menyempatkan pamit.
Lumayan banyak belanjaannya, pikirku usil. Kuperhatikan hampir setengah mobil
dipenuhi tas koper dan paket2 yang lumayan besar.

Jakarta. Tak perlu
waktu lama untuk menyimpulkan bahwa kota inilah surganya dunia. Dua tahun lebih
tinggal di sini sudah cukup memberiku arti tentang menggodanya fasilitas dan
keindahan duniawi. Plus satu pemahaman baru : semua bisa dibeli asal ada uang.
Mengerikan.

Kulanjutkan langkah ke kantor. Beberapa meter dari rumah
akupun terkesiap. Seorang pemulung –dilihat dari penampilan dan karung
bawaannya- sedang duduk di atas pembatas jalan sambil membaca koran bekas yang
entah dipungutnya dimana. Agak takjub kulambatkan langkah, mencoba melihat
kegiatan lelaki itu dengan sudut mataku. Dia benar2 membacanya! Dengan serius!!
Subhanallah…. Tiba2 diriku menjadi tertohok dan mengingat2 betapa sering
menyia2kan waktu di kantor tanpa menyentuh koran yang tergeletak, atau mengisi
waktu luang sambil membaca buku yang menambah pengetahuan. Merasa malu karena
pemulung ini –seseorang yang notabene menjadikan aktivitas mencari rezeki
sebagai bagian terbesar dari hidupnya- masih menyempatkan diri mencari
informasi. Bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim, dan merupakan
aktivitas hidup tanpa henti, mulai meresapi hatiku. Teringat akan firman-Nya
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. 58: 11). Dan
pagi ini pemulung itu lebih tinggi beberapa derajat dariku. Insya Allah….

Kuteruskan laju dengan pikiran dan rencana2 baru yang berkelebat. Hari
ini harus benar2 lebih baik. Tidak boleh ada waktu luang yang terbuang sia2.
Pemulung itu aja bisa, kenapa aku tidak? Sungguh kenikmatan maupun penderitaan
di mata manusia sesungguhnya memang sebuah ujian bagi manusia itu sendiri.
Apakah kenikmatan dan kemewahan kita selama ini dimanfaatkan untuk sebenar2
mengabdi kepada Sang Pemberi Nikmat atau bisa jadi melenakan kita? Rasulullah
SAW bersabda, “Dua macam kenikmatan yang kebanyakan manusia dapat tertipu oleh
keduanya, yaitu kesehatan dan waktu kosong/ terluang “(HR. Bukhari). Padahal
bisa jadi keterbatasan yang dikaruniakan-Nya menjadi ladang jihad dan usaha yang
sungguh2 bagi kita. Seperti pemulung itu di pagi ini….

“Bu, ada sarung
dan baju?” tanya seorang kakek di depan rumah seorang ibu yang keluar dari
beranda rumahnya. “Apa Pak?” tanya ibu itu nyaring. Entah heran, entah curiga.
Tapi pertanyaan kakek itu memang tidak menyiratkan apa2. Penampilannya lusuh,
menjelaskan pertanyaannya yang tiba2 datang pagi tadi. Kembali dia mengulang
pertanyaan yang sama sambil menambahkan kata2 yang bagiku terdengar samar
“…untuk shalat….” Satu episode lagi yang harus kulewati di perjalanan pagiku
hari ini. Aku menghela nafas lagi. Masya Allah…untuk shalat saja tidak ada
baju? Sungguh tiba2 hati ini menjadi tunduk dan mengerut, karena rasa aneh yang
teraduk2. Pedih, atas keadaan dunia yang penuh elegi dan ketimpangan. Kagum,
karena jihad atas kecintaan yang mendalam kepada Rabb, sungguh2 dilaksanakan
dalam keterbatasan dan penderitaan. Malu, karena diri ini terlalu sering
melalaikan dan menyia2kan nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Pagi ini
“sarapan”ku sangat berarti….

Nasihat Untuk Para Gadis Remaja

Monday, June 19th, 2006

Sumber : DSH net

Dengan nada terbata-bata dan di iringi linangan ari mata penyesalan seorang remaja puteri bertutur,

"peristiwa ini bermula hanya pembicaraan melalui telepon antara aku dengan seorang pria, lalu berlanjut mambuahkan kisah cinta di antara kami. ia merayu bahwa dirinya sangat mencintaiku dan ingin segera meminangku. dia berharap dapat bertemu muka denganku, namun aku mengancam ingin menjauhi dirinya, kemudian menyudahi hubungan ini. akan tetapi aku tak kuasa melakukan itu. maka aku putuskan dengan mengirimkan fotoku dalam sebuah surat cinta yang semerbak dengan wangi aroma bunga mawar."

Gayung bersambut suratku pun dibales olehnya, dan semenjak itu kami sering saling kirim surat. ia mengajakku untuk kaluar pergi berduaan. aku menolak dengan keras ajakan itu. tapi ia balik mengancam akan membeberkan semua tentang diriku , foto-fotoku, surat cintaku, dan obrolan dengannya selama ini melalui telapon. aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh ancamannya.

Akhirnya aku pun pergi keluar bersamanya dan berharap bisa pulang kembali ke rumah dengan secepatnya. memang aku pun akhirnya pulang, namun sudah bukan sebagai diriku yang dulu lagi, aku telah berubah. aku kembali ke rumah dengan membawa aib yang berkepanjangan, dan suatu ketika kutanyakan kepadanya, " kapan kita akan menikah? apakah tidak secapatnya?" namun ternyata jawabannya yang ia berikan sungguh sangat menyakitkan, dengan nada menghina dan merendahkan ia berkata " aku tak akan mau menikah dengan wanita rendahan sepertimu."

Wahai saudariku tercinta! kini engkau tahu bagaimana akhir hubungan kami yang jelas-jelas terlarang ini. oleh karena itu waspada dan hati-hatilah jangan sampai engaku terjerumus dalam hubungan semacam itu. jauhilah teman yang buruk perangai, yang suatu saat bisa saja ia menjerumuskanmu lalu menyeretmu ke dalam pergaulan yang rendah dan terlarang. ia hiasai itu semua sehingga seakan-akan menarik dan merupakan hal biasa yang tidak akan berakibat apa-apa, tak akan ada aib dan lain sebagainya.

Namun sayang seribu sayang bahwa sebagian para gadis tak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa memalukan yang menimpa gadis lainnya. mereka tak mempercayai segala ucapan dan nasehat yang diberikan kecuali setelah peristiwa itu benar-benar menimpa, dan setelah terlanjur menjadi korban kebiadaban lelaki amoral itu. tatkala musibah dan aib yang mencoreng muka telah terjadi, maka ketika itulah ia baru terbangun dari keterlenaannya. ia berangan-angan agar aib, derita, dan kegetiran itu segera berakhir, namun musim telah berlalu dan segalanya telah terjadi. yang hilag tiada mungkin kembali! " mengapa semua jadi begini…..?"

Selamat tinggal, kami pasti menyusulmu.

Sunday, June 18th, 2006

Tanah penuh menggunduk di atas lubang kubur. Di ujung utara lubang ditancapkan sebuah penanda berupa identitas dari kayu. Di ujung selatannya ditanam pucuk kamboja. Bunga-bunga ditebarkan diatasnya. Seorang wanita tampak menyiramkan air mawar di atas tanah itu.

Ketua masjid siap berbicara mewakili lelaki muda yang baru saja keluar dari lubang kubur itu. Bisik-bisik disampaikan oleh lelaki muda itu kepada ketua mesjid. Dia berpesan kepadanya akan dua hal. Pertama mohon disampaikan ucapan terimakasih kepada para pelayat yang telah hadir dan telah membantu semua proses penguburan jenazah, dan kedua permohonan sekali lagi bila memiliki urusan utang piutang agar mengikhlsakan atau berhubungan dengan ahli waris.

Setelah ketua masjid selesai mengucapkan pesan pesannya, satu dua pelayat segera meninggalkan pelataran kuburan. Tampak anak-anak dari jenazah berkerumun dan berdoa di atas kubur.

Teringatlah oleh lelaki muda itu percakapan singkatnya tadi pagi sebelum jenazah datang dari rumah sakit. Setelah mendapatkan penjelasan darinya tentang berapa lama almarhum sakit, ketua masjid melontarkan kalimat. “pantas beberapa hari ini tidak melihat beliau shalat di masjid” Sebuah ungkapan yang menggambarkan adanya perhatian seorang muslim pada muslim lainnya karena ikatan masjid.

Seseorang akan terikat dengan siapa dia bergaul dan di mana dia memiliki peranan. Dari lingkungan pergaulannya itulah perhatian akan datang. Bila ia tak berada di sana, lingkungannyalah yang akan merasa kehilangan.

Bila seseorang terikat dengan lingkungan masjid, maka jamaah masjid akan kehilangan dirinya ketika ia meninggal. Ketika seseorang memiliki peran di lingkungan pekerjaan, maka rekan-rekan kerjanyalah yang akan kehilangan dirinya ketika ia tidak lagi di sana.

Bila seseorang memiliki peranan di lingkungan organisasi, maka rekan-rekan organisasinya yang akan merasakah kehilangan dirinya ketika ia tak lagi di sana.

Lelaki muda itu merenung akan dirinya. Dengan siapa saja dia bergaul selama ini, pada lingkungan apa dia memiliki peranan. Apakah bila dia meninggal nanti ada orang-orang yang merasa kehilangan dirinya? Dia hanya menghela nafas.

Perlahan lelaki muda itu beranjak meninggalkan lubang kubur tempat bapak mertuanya dikuburkan, naik ke atas mobil yang tadi mengantarnya diikuti oleh anak-anak almarhum yang lain. Teringatlah olehnya pesan dari nabi junjungannya.

“Bila anak adam meninggal dunia, semua amalnya terputus kecuali tiga hal; sodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang senantiasa mendoakannya” terngiang olehnya pesan-pesan itu saat dia berada di atas mobil.

Kala yang lain ia pernah mendengar pesan seorang ustadz dalam pengajian di kantornya. Merugilah orang-orang yang sempat menemui kedua orang tuanya di saat kedua orang tuanya sudah tua, dan dia tidak dapat masuk surga karenanya.

Orang tua adalah salah satu tempat ladang amal. Di sana anak dapat menunjukkan penghormatan kepada orang yang dahulu telah melindunginya. Di sana anak dapat memberikan sejumput cinta kasih, kepada orang yang dahulu mengucurkan lautan cinta kepadanya. Di sana anak dapat menunjukkan perhatian dan baktinya.

Perlahan mobil mulai bergerak menuju rumah mertuanya. Di sana menunggu satu pusaka yang masih dapat menjadi ladang amal baginya. Ibu mertuanya. Ibu yang juga nenek dari anak-anaknya. Orang tua yang membutuhkan kasih sayang balik setelah berpuluh tahun memberikan lautan kasih sayang pada anak-anaknya. Semoga masih ada waktu untuk berbakti kepadanya.

Ridho

Sunday, June 18th, 2006

Sumber : DSH net
Tulisan ini adalah ringkasan dari khutbah Jum’at Masjid Al-furqon GKN II Jl. Dinoyo No. 111 Surabaya tanggal 9 Juni 2006……..

Ada empat ayat dalam Al-Qur’an yang sangat dirindukan oleh setiap muslim di akhir hayatnya. Empat ayat itu terdapat dalam Qur’an Surat Al Fajr Ayat 27 s/d 30, yaitu: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridlo lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku”.

Setiap kita ingin di akhir hidup kita diridloi oleh Allah, diampuni segala dosa kita, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya, tetapi sudahkah kita berusaha untuk mencapai itu? Ada satu syarat agar hidup kita diridloi oleh Allah, yaitu kita juga harus ridlo kepada Allah. Dalam kamus bahasa Indonesia kata ridlo diterjemahkan dengan rela. Tetapi secara sar’i, ridlo berarti: menerima segala syariat (hukum-hukum) Allah yang di turunkan kepada kita dan menerima segala ketentuan / ketetapan Allah, taqdir yang baik maupun yang menurut kita tidak baik. Seorang Sufi, Robiatul Adawiyah mengatakan ciri orang yang ridlo adalah: kegembiraannya ketika mendapat nikmat sama dengan kegembiraannya manakala mendapat musibah.

Biasanya kita akan bergembira mana kala mendapatkan nikmat, namun sebaliknya menggerutu dan tidak mau menerima manakala mendapatkan musibah. Bahkan kadangkala berusaha menghindar dari musibah dengan cara-cara yang makin menjauhkan kita dari Allah swt. Misalnya dengan mengadakan acara tolak balak, larung sesaji dilautan, dan lain-lain yang pada dasarnya semakin mendekatkan diri pada kemusrikan. Padahal sesungguhnya dihadapan Allah tiada beda antara nikmat dan musibah. Keduanya sama-sama merupakan ujian. Musibah didatangkan untuk menguji kesabaran kita, sementara nikmat dianugerahkan untuk menguji seberapa besar rasa syukur yang kita miliki.

Untuk bisa ridlo atas musibah yang menimpa harus dimulai dengan belajar. Belajar untuk menerima segala apa yang ditaqdirkan oleh Allah kepada kita. Proses belajar ini diawali dengan iman dan amal sholeh. Allah berfirman dalan Qur’an Surat Al Bayyinah ayat 7 dan 8: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Seringkali kita menyukai sesuatu padahal apa yang kita sukai itu tidak baik bagi kita. Sebaliknya sering pula kita tidak menyukai sesuatu padahal ia baik bagi kita. Allah maha mengetahui apa yang terbaik buat hamba-hamba Nya…….

Renungan

Thursday, June 15th, 2006

Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu … sebagai balasannya … kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..
sebagai balasannya … kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang … sebagai balasannya … kamu buang piring berisi makananmu ke lantai

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna … sebagai balasannya … kamu corat coret tembok rumah dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya … kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah … sebagai
balasannya … kamu berteriak "NGGAK MAU …!"

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola … sebagai balasannya ..kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim … sebagai dalasann ya ..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu 

Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu ..sebagai balasannya … kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun … sebagai balasannya … kamu melompat
keluar mobil tanpa memberi salam

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop … sebagai balasannya … kamu minta dia duduk di barisan lain

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa … sebagai balasannya … kamu tunggu sampai dia keluar rumah

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya ..sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan … sebagai balasannya … kamu nggak pernah menelponnya.

Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu …
sebagai balasannya … kamu kunci pintu kamarmu

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil …sebagai balasannya … kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa
mempedulikan kepentingannya

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting .. sebagai balasannya … kamu pakai telpon nonstop semalaman,

Waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya … kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu
ke kampus pada hari pertana … sebagai balasannya … kamu minta
diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya … kamu menjawab "Ah, cerewe t amat sih, pengen tahu urusan orang."

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu … sebagai balasannya … kamu bilang "Aku nggak mau
seperti kamu."

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus
perguruan tinggi … sebagai balasanmu … kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah
barumu … sebagai balasannya … kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya
tentang rencana di masa depan … sebagai balasannya … kamu mengeluh
"Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu ..
sebagai balasannya … kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat
bayimu … sebagai balasannya … kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah
satu saudara dekatmu … sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali,
nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu … sebagai balasannya … kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang … dan tiba-tiba kamu
teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, … dan itu menghantam
HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA ..
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .. BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI
JIKA ORA NG TUAMU SUDAH TIADA … INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU