Archive for July, 2006

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Thursday, July 27th, 2006

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna
sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan
terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong
mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
"Makanlah nak, aku tidak lapar" ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih
menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan
ikan" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan
kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api
untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang
untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun
dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan
dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku
berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak
capek" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental
tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak
haus!" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"
———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya
punya duit" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku
tidak terbiasa" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas
betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat
lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air
mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku,Aku
tidak kesakitan" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! "

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon
ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita
untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita
yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk
meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah
dan ibu yang ada di rumah.

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan
pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas
apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di
samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita
renungkan kembali lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di
kemudian hari.

Sabar, Satu ciri manusia beriman

Thursday, July 27th, 2006
Islam memandang tegas kepada sifat ini. Sifat ini melahirkan
manusia yang benar-benar berketerampilan dan berinovasi. Sabar adalah alat
kepada manusia bila menghadapi ujian allah. Sabar juga sebagai satu alat untuk
allah mengukur sejauh mana keimanan manusia itu kepadanya. Sabar melatih diri
agar tenang. Sabar juga sebagai sumber keamanan manusia sejagat.

Menurut
Dr. Mohd Yusuf Al Qardhawi, sabar merupakan sebesar-besar akhlak al-quran. Ini
kerana menurut beliau kalimah sabar ini seringkali disebut didalam kitab suci
itu. Manusia sering diingatkan supaya bersabar. Dalam al-quran, sabar ini bukan
sahaja merujuk kepada surah-surah makkiyah iaitu surah-surah yang mengajar
manusia tentang iman tetapi juga surah-surah madaniyah yang menerangkan tentang
cara hidup manusia mukmin.

Menurut Imam Al-Ghazali pula, dalam kitab
As-Sabr Wa As-Sykr Daru Rubu’ Al Munajiyat, dari kitab induknya Ihya Ulumud Din
, kalimah sabar dalam al quran terdapat melebihi tujuh puluh tempat.

Menurut Ibnu Qayyim pula dalam kitabnya Madarij As Salikin, memetik dari
iman ahmad menerangkan sabar dalam quran itu disebut melebihi sembilan puluh
tempat.

Menurut Abu Thalib Al Makki pula dalam Kitana Qut Al-Qulub
memetik dari sebilangan ulama katanya maka satu perkataan lagi yang melebihi
kalimah sabar. Aesungguhnya allah taala telah menyebut tentangnya dalam kitabnya
melebihi sembilan puluh tempat dan kami tidak mengetahui perkataan itu melainkan
orang-orang yang sabar.

Terdapat beberapa dalil dalam Al Quran tentang
sabar ini diantaranya surah An Nahl ayat 126-127 maksudnya :-

“Dan jika
kamu memberikan pembalasan , hendaklah dibalskan serupa dengan kejahatan yang
diperbuatkan kepada kamu, dan kalau kamu bersabar, maka itulah yang paling baik
bagi orang-orang yang sabar. Dan hendaklah engkau bersabar, dan tidak adalah
kesabaran itu melainkan dengan pertolongan allah”

dalam surah al ahzaab
ayat 25 allah berfirman

“dan orang-orang yang sabar lelaki dan
orang-orang yang sabar dari kalangan perempuan”.

Sabar disini bermaksud
menahan dan tidak bertindak dengan ertikata jika diancam bunuh sekalipun tidak
melawan.

Dalam surah alkahfi pula, allah berfirman ini menunjukan sabar
itu :-

“ dan bersabarlah engkau bersama-sama orang yang menyeru tuhannya
pada waktu pagi dan petang , mereka menginginkan keredhaan allah dan janganlah
engkau menghindarkan pemandangan daripada mereka.”

Sabar disini dulas
dengan makna teguhkan hatimu bersama mereka.

Sabar lawannya gelisah.
Oleh yang demikian kita janganlah gelisah kerana itu adalah cabanmg membawa kita
kepada api neraka. Allah ada berfirman dalam quran yang menunjukan satu kaum
yang menidakkan sabar itu dan berputus asa dengan rahmat allah. Allah merakamkan
kata-kata meraka ini dalam surah ibrahim ayat 21 maksudnya :-

“Sama saja
ke atas kita, sama ada kita gelisah ataupun kita bersabar, tiadalah kita
mempunyai tempat berlindung”.

Sabar dalam konteks ayat ini bermaksud
menahan hati (berhati teguh) diatas apa yang dibenci untuk mendapat(mencari)
keredhaan allah sperti firman allah dalam surah Ar Ra’du ayat 22 bermaksud :-

“ Dan orang-orang yang bersabar (berhati teguh / menahan diri) kerana
mencari keredhaa tuhannya.

Inilah serba sedikit tentang sifat sabar
seperti yang diteragkan didalam quran. Dilain tulisan saya akan sambung mengenai
jenis-jenis sabar dan kepentingan sabar dalam islam….

Firman Allah
s.w.t di dalam Al-Quranul Karim Yang bermaksud :

"Wahai orang-orang yang
beriman minta tolonglah kamu dengan sabar dan sembahyang, sesungguhnya Allah
bersama-sama dengan orang yang sabar"(153.)

Secara umumnya kita semua
maklum apa itu yang dikatakan sabar.Tidak perlu kita menta’rifkannya secara
terperinci.Bukan sekali dua sifat yang mulia ini kita temui di dalam kitab suci
Al-Quran dan juga hadis-hadis Rasulullah s.a.w.

Malahan setiap ketika
kita mengucapkannya kepada teman-teman kita atau sesiapa sahaja bila mana mereka
ini ditimpa oleh sesuatu perkara yang tidak diingini .Hatta terhadap diri kita
sendiri pun sifat ini akan terlintas di hati bila perkara yang sama berlaku
terhadap diri kita.Secara kesimpulannya sifat ini merupakan salah satu sifat
yang dihimpunkan di dalam sifat-sifat " Mahmudah" .

Banyak hadis-hadis
Rasulullah s.a.w. yang menceritakan kepada kita betapa ganjaran,kelebihan dan
kebaikan yang Allah s.w.t. anugerahkan kepada hambanya apabila sifat ini dapat
ditakluki secara sempurna yang mungkin. Sebagaimana terdapat hadis Rasulullah
s.a.w. yang menyatakan kebaikan sabar ini sebagaimana sabdanya :

Yang
bermaksud :Bersabar terhadap perkara yang dibenci itu terkandung di sana
kebaikan yang banyak .

Sememangnya sifat ini Allah s.w.t. telah
membekalkan kepada setiap hambanya samada yang mukminnya mahu pun yang kafirnya.
Pokoknya penguasaan sifat sabar ini sehingga ke tahap mana kita sebagai makhluk
Allah s.w.t.sudah tentu tidak mampu untuk mengukurnya kecuali Allah s.w.t. yang
Maha Mengetahui.

Sifat SABAR terbahagi
kepada dua bahagian:

1 - Maqamat

Maqamat ialah perjuangan
atau usaha serta mujahadah yang kita lakukan dengan tujuan untuk mendatangkan
sifat tersebut. Tidak bererti sifat ini sentiasa kekal pada diri kita tanpa kita
tidak sedikit pun berjuang untuk mendapatkannya.

Walau pun pada
peringkat permulaan penulis ada menyatakan bahawa setiap hamba Allah itu telah
dibekalkannya dengan sifat sabar ini tetapi ianya sepertilah sebagaimana yang
kita maklumi bahawa setiap hamba Allah di muka bumi ini Allah telah menyediakan
atau menetapkan rezekinya masing-masing

Tetapi apakah rezeki itu datang
secara bergolek sahaja kepada kita tanpa sedikit pun kita berusaha untuk
mendapatkannya. Begitulah juga dengan sifat -sifat baik yang kita utarakan
ini.Sifat tawadhuk ,wara’ ,ridha dan segala sifat mahmudah ini tidak akan
tercapai oleh kita tanpa ada usaha yang sebenarnya dari kita.

2 - Ahwal:

Ahwal ini merupakan suatu
perasaan yang timbul dengan sendirinya terhadap diri kita.Tidak kira samaada
perasaan itu berbentuk gembira,bahagia,senang, sedih ,marah dan sebagainya.

Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad di dalam kitabnya telah
membahagikan sifat sabar ini kepada empat bahagian.

1 - Sabar di dalam
melaksanakan ketaatan sewaktu beribadat kepada Allah s.w.t.

2 - Sabar
terhadap perkara-perkara maksiat

3 - Sabar terhadap perkara-perkara yang
tidak diingini

4 - Sabar terhadap hawa nafsu

1: Sabar di dalam melaksanakan ketaatan sewaktu
beribadat kepada Allah s.w.t.

Untuk melahirkan sifat sabar yang
sebenarnya terhadap perkara perkara ketaatan ini hendaklah setiap ketaatan yang
kita datangkan itu disertai bersama dengan perasaan ihklas yang lahir di dalam
hati kita.Kenapakah syarat ikhlas ini diletakkan di peringkat permulaan lagi?

Ini kerana untuk melahirkan perasaan ihklas ini bukan suatu perkara yang
mudah dan senang.Ianya bukan boleh dibuat -buat begitu sahaja tanpa merasakan
sesuatu yang benar-benar ihklas lahir dari lubuk hati kita.Maka inilah yang
dinamakan ahwal.

Bila mana kita telah mampu mendatangkan sifat ini
dengan penuh usaha dari kita maka secara automatiknya kita telah mampu untuk
meninggikan maqamat atau kedudukan kita di sisi Allah s.w.t. dalam perkara sabar
ini.

Terkadang kita merasakan bahawa untuk melakukan sesuatu perkara
taat merupakan suatu perkara yang senang sekali.Kita boleh sahaja menunaikan
solat fardhu lima kali setiap hari,kita boleh saja berpuasa wajib di bulan
Ramadhan secara keseluruhannya ,begitu juga dengan puasa -puasa sunat dan
solat-solat sunat,kita bila-bila masa sahaja boleh memberikan bantuan kepada
sesiapa sahaja yang memerlukan bantuan dari kita.

Tetapi apakah selama
kita menunaikan ketaatan kita kepada Allah s.w.t.disertai juga dengan sifat
ihklas tadi.Alangkah ruginya kita apabila setiap perkara taat yang kita usahakan
pagi petang siang dan malam cuma semata-mata kerana makhluk Allah s.w.t sahaja
tetapi bukan kerana yang Maha suci.

Setiap solat yang kita tunaikan
semata-mata ingin dilihat oleh orang lain dan ingin mendapatkan pujian dari
mereka.Setiap puasa yang kita usahakan sepanjang hari,kita merasakan bahawa itu
merupakan suatu perkara terpaksa bagi kita,bukan dengan kemahuan yang kita
inginkan atau ingin menunjuk-nunjuk bahawa kitalah orang yang paling rajin
menunaikan puasa sunat setiap minggu,demikian juga bantuan yang kita hulurkan
kepada sesiapa sahaja semata-mata ingin mendapatkan imbalan atau balasan dari
mereka tanpa kita sedikit pun menyandarkan kepada Allah s.w.t,apatah lagi hendak
disertai dengan perasaan ikhlas.

Sekiranya segala sebab-sebab sebegini
masih lagi meliputi di tubuh badan dan jiwa kita, setiap amal kebaikan yang kita
lakukan sudah sekian banyak terjual dengan sifat sum’ah dan riak kita dan setiap
perkara-perkara kebaikan yang sudah sekian lama kita kerjakan sudah terjual
semuanya dengan segala sifat mazmumah dari kita maka kita sendiri boleh
merasakan bahawa maqam sabar kita terhadap perkara-perkara taat di sisi Allah
s.w.t. masih terlalu jauh lagi dari kita.

Tetapi bila mana ianya dapat
kita kawal dengan rapi ,setiap kebaikan dan ketaatan yang kita usahakan sentiasa
dengan tawadhuk dan rendah diri kepada Allah s.w.t.,sentiasa kekal di hati kita
untuk mendapatkan keredhaan dari Allah s.w.t. maka ketika itu kita di sisi Allah
s.w.t.berada di maqam yang tinggi dan layak diberi title sebagai ?????? ?????
justeru kerana kedudukan kita telah sampai ke tahap ????? ? ??????? .

Penulis rasa ada baiknya kalau kita mengimbas kembali bagaimana
kedudukan atau maqam nabi s.a.w. dan para sahabat terdahulu dalam melaksanakan
ketaatan mereka kepada Allah s.w.t.Bagaimana perasaan mereka setelah mana mereka
mampu untuk menghadirkan diri ke masjid nabi walaupun mereka terpaksa menghadapi
suasana yang sejuk serta panas namun mereka tetap tidak mahu untuk melepaskan
peluang dan merebut pahala solat tahajjud dan qiamullail lainnya sehinggakan
mereka merasakan begitu sedih dan sunyi apabila waktu solat tahajjud kian
berakhir.

Diceritakan dalam sejarah sampai-sampai ada dikalangan mereka
menangis apabila waktu solat malam berakhir dan mereka tidak sempat untuk
memakmurkannya.Mengapa perasaan seperti ini ada pada para sahabat nabi dan tidak
sedikit pun tercurah ke dalam hati kita ? Tidak lain dan tidak bukan ini adalah
kerana kelazatan beribadat telah sebati dalam jiwa mereka.Ketaatan dan kesabaran
mereka dalam melaksanakan ibadat sememangnya telah berada di kemuncak yang
tertinggi di sisi Allah s.w.t.

Kita lihat pula kepada seorang ahli feqih
dan tasauf yang terkenal iaitu Imam Zakaria Al-Ansori,yang mana termaktub dalam
sejarahnya,bahawa sepanjang hidup beliau dalam dunia ibadat,beliau tidak mahu
sembahyang dengan cara duduk walaupun umur beliau menjangkau ratusan tahun dan
ketuaannya terserlah.Sehinggakan ketika sembahyang badan beliau bergoyang ke
sana ke mari namun beliau tetap tidak mahu duduk,walaupun di sana beliau telah
diberi saranan oleh sahabat-sahabat dan juga murid-muridnya agar beliau duduk
sahaja ketika sembahyang kerana memandangkan tenaganya yang kian lemah.

Apabila ditanya kepada beliau,mengapa tuan tetap juga mahu berdiri
ketika sembahyang sedangkan tuan terlalu lemah untuk berdiri.Bagaimana dengan
jawapan beliau.Beliau mengatakan bahawa yang menyebabkan saya untuk terus
berdiri kerana nikmat dan kelazatan qiam ketika sembahyang itu adalah sesuatu
yang sangat ternilai bagi saya.Cuba kita bayangkan,sedangkan di sana telah ada
keringanan hukum yang telah diberikan oleh Rasulullah s.a.w. terhadap orang yang
tidak mampu berdiri ketika bersembahyang.Bagaimana dengan kita.Apakah sebab yang
mendorong mereka untuk sampai ke tahap itu.

2: Sabar terhadap perkara-perkara maksiat

Seterusnya marilah bersama-sama kita lihat bagaimana huraian
terhadap pembahagian kedua iaitu sabar terhadap perkara-perkara maksiat. Apakah
tindakan yang sewajarnya yang perlu kita lakukan bila mana kita berhadapan
dengan perlakuan maksiat yang berlaku dihadapan mata kita.

Pada
hakikatnya untuk mendatangkan sifat sabar terhadap perkara maksiat ini lebih
berat daripada kita mengelak diri dari mendatangkan sifat -sifat mazmumah dalam
peribadatan kita kepada Allah s.w.t. sebagaimana yang kita bincangkan pada
bahagian pertama tadi.

Kalau kita lihat pada bahagian yang pertama tadi
juga ia merupakan suatu perkara yang ringan untuk dilaksanakan bagi orang yang
diberi kemudahan oleh Allah s.w.t. manakala ianya akan menjadi berat bagi orang
yang tidak mendapatkan hidayah dan petunjuk daripada Allah s.w.t.

Penulis mengatakan bahawa untuk sabar dalam perkara maksiat ini lebih
berat daripada yang pertama kerana ianya memerlukan usaha yang
bersungguh-sungguh dan paksaan yang kuat untuk meninggalkannya. Sekiranya tanpa
usaha dan paksaan dari kita sudah tentu perkara maksiat ini tidak akan lekang
dari kita

Al Imam Al Habib Ibnu Alwi Al Haddad dalam pembicaraannya
dalam masalah ini telah memberikan suatu peringatan kepada kita dengan
sekeras-kerasnya supaya jangan sekali-kali kita cuba untuk mengingati atau
mengimbas kembali segala sejarah buruk dan segala perlakuan maksiat yang telah
kita lakukan sewaktu masa dahulu.Walaupun pada masa ini kita menganggap bahawa
kita telah pun berada di dalam golongan orang-orang yang selalu mengingati Allah
s.w.t.

Tetapi jangan sekali-kali kita merasakan bahawa diri kita mampu
untuk mengatasi segala maksiat yang berlaku terhadap diri kita dan di hadapan
mata kita.Tidak bererti kita mampu untuk menghindarkan diri kita ,walaupun di
dalam kepala kita terkumpul ayat-ayat Al-Quranul karim,terhimpun hadis-hadis
nabi s.a.w.,termaktub di dalam benak kita segala ilmu yang telah kita timba
semenjak dari tahun pertama pengajian kita di bumi Mesir ini sehinggalah ke hari
ini.

Ini kerana walaupun kita sekarang berada di maqam yang tertinggi
tetapi sekali kita teringat sahaja terhadap keseronokan dosa dan keenakan
maksiat yang telah kita lakukan suatu masa dahulu maka secara spontan perasaan
tersebut akan terlintas di hati kita untuk kita kerjakan bagi kali kedua.Jelas
sekali perkara ini amat berbahaya kepada kita sekiranya tidak ada paksaan dari
kita untuk meninggalkan segala ingatan tersebut.

Jadi seandainya kita
mengingati segala dosa kesalahan kita yang telah silam itu akan membuat kita
lebih menyesal dan insaf dengan sebenar-benarnya dan sekaligus akan meningkatkan
kedudukan atau maqam kita kepada maqam taubah dan istighfar itu adalah suatu
yang baik tetapi yang terlebih baik sekali ialah tidak mengingati sama sekali
perkara-perkara hitam yang telah kita lakukan dahulu.

Al Imam Al Habib
Ibnu Alwi Al Haddad dalam kitabnya begitu kuat sekali menekankan perkara ini
agar tidak mengingatinya kembali sehingga ia mengatakan bahawa lebih ringan
masuk neraka daripada kita terjerumus kembali ke dunia maksiat akibat perbuatan
kita terus-menerus membayangkan keindahan maksiat yang telah kita lakukan
beberapa waktu dahulu.

3: Sabar terhadap
perkara-perkara yang tidak diingini

Sabar dalam perkara-perkara
yang tidak diingini atau dibenci terbahagi kepada dua bahagian:

a: Sabar kita sewaktu ditimpa sebarang bencana atau
malapetaka.

i.e. sabar ketika kita menerima sebarang bentuk
malapetaka atau musibah yang bukan sebab daripada seseorang hamba atau makhluk
Allah s.w.t tetapi ianya adalah terus dari Allah s.w.t umpamanya sakit ,hilang
dan musnah harta kita akibat banjir yang melanda,ribut taufan yang memusnahkan
segala-galanya dan sebagainya.

Bagaimana perasaan kita sewaktu kita
kehilangan seseorang yang amat kita sayangi,bagaimana perasaan kita sewaktu
rumah yang kita tinggal dijilat api semuanya,bagaimana perasaan kita sewaktu
kita sihat walafiat tiba-tiba Allah datangkan kepada kita suatu penyakit yang
amat sukar untuk diubati.

Sudah tentunya ketika berhadapan dengan
perkara-perkara atau musibah sebegini kita akan mengeluh dan mengadu ke sana dan
ke mari untuk menyatakan perasaan kita yang kita tanggung waktu itu.Ketika
inilah ujian sebenar yang menimpa kita akan menentukan kita sama ada kita sabar
atau tidak untukk menghadapinya .

Bagi seseorang yang telah biasa dengan
maqam sabar ini sudah tentunya mudah bagi dirinya untuk menyandarkan bahawa ini
merupakan suatu ujian Allah kepada dirinya sekaligus maqam al qada’ dan qadar
telah tersemai dalam dirinya walaupun pelbagai sebab telah tersedia ada di
hadapannya sebagai suatu illah bagi peristiwa-peristiwa yang telah berlaku
terhadap dirinya,namun kesemuanya itu tetap menjadi suatu perkara yang telah
disandarkan kepada Allah s.w.t.Bagi seseorang yang sentiasa mengeluh dan terus
mengadu ke sana dan ke mari seolah-olahnya ia tidak setuju dengan al qada’ dan
al qadar yang telah diturunkan kepadanya.

Tetapi tidaklah semua keluhan
yang kita luahkan itu merupakan ketidak setujuan kita terhadap musibah yang
ditimpakan kepada kita contohnya lelehan air mata yang turun dari kelopak mata
kita sewaktu ditimpa sebarang musibah atau kita menahan sebarang kesakitan dan
sekaligus kita tidak mengadu ke sana dan ke mari itu tidaklah dinamakan kita
tidak sabar terhadap ujian yang ditimpakan kepada kita atau dengan kata lain itu
tidaklah bertentangan dengan maqam sabar yang kita bicarakan ini.

Gambaran seperti ini jelas sekali tidak mengapa sebagaimana yang berlaku
terhadap junjungan kita nabi besar Muhammad s.a.w. sewaktu kewafatan seorang
anak lelaki kesayangan beliau iaitu yang bernama Ibrahim.

Di mana pada
waktu itu beliau tidak lagi dapat menahan kesedihan sehingga mengalir air mata
beliau,sebagaimana menurut maksud sabdanya : "Sesungguhnya dengan air mata yang
menitis ,dengan hati yang berdukacita,sesungguhnya dengan kami sangat
berdukacita sekali sewaktu kami berpisah dengan anda"

Itu adalah
merupakan suatu keadaan ketika mana nabi melepaskan putera beliau yang bernama
Ibrahim dengan lelehan air mata yang tidak dapat dibendung lagi kerana terlalu
sedih , di mana setelah menerima asuhan dari nabi anak tersebut menghembuskan
nafasnya yang terakhir.

sumber: Bicaramuslim.com

Keutamaan Sabar Menghadapi Cobaan

Wednesday, July 26th, 2006

Keutamaan Sabar Menghadapi Cobaan

Majdi As-Sayyid Ibrahim


KATA PENGANTAR

Insya Allah untuk Masalah-47 s.d Masalah-50, kami akan mengangkat
seruan-seruan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditujukan kepada
wanita-wanita Mukminah, baik berupa peringatan ataupun berupa perintah-perintah
yang dikhususkan bagi mereka. Dan artikel-artikel tersebut kami ambil dari buku
50 Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi Wanita, oleh
Majdi As-Sayyid Ibrahim, terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan kelima.

KEUTAMAAN SABAR MENGHADAPI COBAAN

    "Artinya : Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata : "Rasulullah Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam
    Isnadnya Shahih, ditakhrij Abu Daud,
    hadits nomor 3092
    )  menjengukku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata.
    ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu
    membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang
    menghilangkan kotoran emas dan perak". (

Wahai Ukhti Mukminah .!
Sudah barang tentu engkau
akan menghadapi cobaan di dalam kehidupan dunia ini. Boleh jadi cobaan itu
menimpa langsung pada dirimu atau suamimu atau anakmu ataupun anggota keluarga
yang lain. Tetapi justru disitulah akan tampak kadar imanmu. Allah menurunkan
cobaan kepadamu, agar Dia bisa menguji imanmu, apakah engkau akan sabar ataukah
engkau akan marah-marah, dan adakah engkau ridha terhadap takdir Allah ?

Wasiat yang ada dihadapanmu ini disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam
tatkala menasihati Ummu Al-Ala’ Radhiyallahu anha, seraya
menjelaskan kepadanya bahwa orang mukmin itu diuji Rabb-nya agar Dia bisa
menghapus kesalahan dan dosa-dosanya.

Selagi engkau memperhatikan kandungan Kitab Allah, tentu engkau akan
mendapatkan bahwa yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan mengambil
nasihat darinya adalah orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah.

    "Artinya : Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang
    berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan
    menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut.
    Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi
    setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur". (Asy-Syura : 32-33)

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan
menyanjung mereka. Firman-Nya.

    "Artinya : Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan
    dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka
    itulah orang-orang yang bertaqwa". (Al-Baqarah : 177)

Engkau juga
akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah,
sebagaimana firman-Nya.

    "Artinya : Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar". (Ali Imran :
    146
    )

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada
orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan
melipatgandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.

    "Artinya : Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang
    yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan".
    (An-Nahl : 96)

    "Artinya : Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan
    pahala mereka tanpa batas". (Az-Zumar : 10)

Bahkan engkau akan
mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan
mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.

    "Artinya : Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua
    pintu, (sambil mengucapkan): ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka
    alangkah baiknya tempat kesudahan itu". (Ar-Ra’d : 23-24)

Benar.
Semua ini merupakan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan.
Lalu kenapa tidak? Sedangkan orang mukmin selalu dalam keadaan yang baik ?

Dari Shuhaib radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam
bersabda.

    "Artinya : Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua
    urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu
    kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu
    kebaikan baginya". (Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud)

Engkau
harus tahu bahwa Allah mengujimu menurut bobot iman yang engkau miliki. Apabila
bobot imanmu berat, Allah akan memberikan cobaan yang lebih keras. Apabila ada
kelemahan dalam agamamu, maka cobaan yang diberikan kepadamu juga lebih ringan.
Perhatikanlah riwayat ini.

    "Artinya : Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku
    pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?
    Beliau menjawab: Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka
    seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang
    kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan,
    maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba
    sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan
    pun pada dirinya". (Isnadnya shahih, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor
    1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023, Ad-Darimy 2/320, Ahmad 1/172
    )

    "Artinya : Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku
    memasuki tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau
    sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas
    ditanganku di atas selimut. Lalu aku berkata. ‘Wahai Rasulullah, alangkah
    kerasnya sakit ini pada dirimu’. Beliau berkata: ‘Begitulah kami (para nabi).
    Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku
    bertanya. ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ? Beliau
    menjawab: ‘Para nabi. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?
    Beliau menjawab: ‘Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara
    mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka
    tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah
    seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah
    seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan". (Ditakhrij Ibnu Majah,
    hadits nomor 4024, Al-Hakim 4/307, di shahihkan Adz-Dzahaby
    )

Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam
berkata :

    "Artinya : Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin dan mukminah,
    anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada
    lagi satu kesalahanpun". (Isnadnya Hasan, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor
    2510. Dia menyatakan, ini hadits hasan shahih, Ahmad 2/287, Al-Hakim 1/346,
    dishahihkan Adz-Dzahaby
    )

Selagi engkau bertanya : "Mengapa orang mukmin
tidak menjadi terbebas karena keutamaannya di sisi Rabb?".

Dapat kami jawab : "Sebab Rabb kita hendak membersihkan orang Mukmin dari
segala maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta
kecuali dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya.
Inilah yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ummul
‘Ala dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata. "Aku memasuki
tempat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu
aku berkata. ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang
sangat keras’.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata. "Benar. Sesungguhnya
aku demam layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam".

Abdullah bin Mas’ud berkata. "Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi
engkau ?"

Beliau menjawab. "Benar". Kemudian beliau berkata. "Tidaklah seorang muslim
menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah
menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang
menggugurkan daun-daunnya". (Ditakhrij Al-Bukhari, 7/149. Muslim 16/127)

Dari Abi Sa’id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya
pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

    "Artinya : Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga
    kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni
    kesalahan-kesalahannya". (Ditakhrij Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130)

Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi,
menahan lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam
perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman,
sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak
sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin
Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. "Kehidupan yang paling baik ialah
apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran". Maka andaikata engkau
mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah
bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit. Perhatikanlah riwayat
berikut ini.

    "Artinya : Dari Atha’ bin Abu Rabbah, dia berkata. "Ibnu Abbas pernah
    berkata kepadaku. ‘Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga ?
    Aku menjawab. ‘Ya’. Dia (Ibnu Abbas) berkata. "Wanita berkulit hitam itu pernah
    mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata.
    ‘Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku.
    Beliau berkata. ‘Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan
    bagimu adalah sorga. Dan, apabila engkau menghendaki bisa berdo’a sendiri kepada
    Allah hingga Dia memberimu fiat’. Lalu wanita itu berkata. ‘Aku akan bersabar.
    Wanita itu berkata lagi. ‘Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo’alah kepada
    Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka’. Maka beliau pun berdoa bagi
    wanita tersebut". (Ditakhrij Al-Bukhari 7/150. Muslim 16/131)

Perhatikanlah, ternyata wanita itu memilih untuk bersabar menghadapi
penyakitnya dan dia pun masuk sorga. Begitulah yang mestinya engkau ketahui,
bahwa sabar menghadapi cobaan dunia akan mewariskan sorga. Diantara jenis
kesabaran menghadapi cobaan ialah kesabaran wanita muslimah karena diuji
kebutaan oleh Rabb-nya. Disini pahalanya jauh lebih besar.

Dari Anas bin Malik, dia berkata. "Aku pernah mendengar Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

    "Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman. ‘Apabila Aku menguji hamba-Ku
    (dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti
    kedua matanya itu dengan sorga". (Ditakhrij Al-Bukhari 7/151 dalam Ath-Thibb.
    Menurut Al-Hafidz di dalam Al-Fath, yang dimaksud habibatain adalah dua hal yang
    dicintai. Sebab itu kedua mata merupakan anggota badan manusia yang paling
    dicintai. Sebab dengan tidak adanya kedua mata, penglihatannya menjadi hilang,
    sehingga dia tidak dapat melihat kebaikan sehingga membuatnya senang, dan tidak
    dapat melihat keburukan sehingga dia bisa menghindarinya.
    )

Maka engkau
harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu.
Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang
menimpanya. Maka dia berkata kepadanya. "Bagaimana mungkin engkau mengadukan
yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu ?"

Sebagian orang Salaf yang shalih berkata : "Barangsiapa yang mengadukan
musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya".

Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter
yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan
penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang
yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.

Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. "Empat hal
termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan
(merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit".

Ukhti Muslimah !
Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah
Al-Andalusy : "Asy-Syaibany pernah berkata. ‘Temanku pernah memberitahukan
kepadaku seraya berkata. ‘Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku
kepada seorang teman. Maka dia memegang tanganku seraya berkata. ‘Wahai anak
saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang
engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan. Kalau
dia seorang teman, berarti dia berduka dan tidak bisa memberimu manfaat. Kalau
dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. Lihatlah salah satu
mataku ini, ’sambil menunjuk ke arah matanya’, demi Allah, dengan mata ini aku
tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang
lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik
ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Yusuf) :
"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku". Maka
jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu.
Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat
untuk dimintai do’a". (Al-Aqdud-Farid, 2/282)

Abud-Darda’ Radhiyallahu anhu berkata. "Apabila Allah telah menetapkan suatu
takdir, maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai takdir-Nya". (Az-Zuhd,
Ibnul Mubarak, hal. 125
)

Perbaharuilah imanmu dengan lafazh la ilaha illallah dan carilah
pahala di sisi Allah karena cobaan yang menimpamu. Janganlah sekali-kali engkau
katakan : "Andaikan saja hal ini tidak terjadi", tatkala menghadapi takdir
Allah. Sesungguhnya tidak ada taufik kecuali dari sisi Allah.

Tabah Menyikapi Musibah

Wednesday, July 26th, 2006

Kuncinya, tumbuhkan keyakinan kepada Allah. Kita akan kuat
menghadapi musibah segetir apapun, kalau kita segera kembali kepada Allah.
Semakin cepat kembali pada Allah, maka akan semakin ringan. Semakin utuh dalam
yakin kepada Allah, maka akan semakin tenang hati kita.

Dalam beberapa hari terakhir banyak yang berkonsultasi
kepada saya tentang permasalahan hidup yang mereka alami. Ada yang terlilit
utang. Ada yang anaknya terkena AIDS. Ada yang suaminya terkena penyakit
mematikan, padahal mereka baru saja menikah. Ada yang terpukul karena suaminya
selingkuh. Dan, ada pula yang patah hati karena putus cinta.

Saudaraku, ada saatnya kita akan ditimpa kepahitan dan
kegetiran dalam hidup. Apalagi kalau kita simak janji Allah dalam Alquran bahwa
manusia akan diuji dengan ketakutan, perasaan mencekam, atau panik. Karena itu,
bila musibah itu terjadi, maka, segera bangkitkan kesadaran bahwa inilah episode
yang harus kita dijalani. Kita tidak bisa lari bila waktunya sudah tiba. Jangan
pernah lari dari kenyataan, karena hal ini tidak akan mampu menyelesaikan
masalah.

Kedua, tatkala kesusahan menimpa, segera kumpulkan segenap
kekuatan dan katakan, ”Saya tidak boleh gagal menghadapi ujian ini; saya tidak
boleh hancur dengan ujian ini; hidup saya tidak boleh rusak dengan ujian ini;
saya harus jalani semua ini dengan baik.” Kalau kata-kata ini terus kita
dengungkan, maka akan ada energi baru yang akan mendorong kita untuk bangkit dan
tangguh menjalani semua musibah tersebut. Dalilnya, ”Aku adalah sesuai dengan
prasangka hamba-Ku.”

Ketiga, yakinlah bahwa segala sesuatu pasti ada ujungnya.
Setiap ujian akan berakhir, tidak mungkin akan abadi sepanjang kita hidup. Allah
SWT akan menguji manusia berepisode-episode. Dalam QS Al-Baqarah ayat 184
disebutkan, Allah tidak akan membebani hamba-Nya, melainkan sesuai dengan
kemampuan hamba tersebut. Ingatlah akan janji Allah bahwa sesudah kesulitan
pasti akan ada kemudahan; pasti bersama kesulitan itu akan ada kemudahan (QS
Alam Nasyrah [94]: 5-6).

Kita pun bisa melihat orang yang ditimpa kesulitan lebih
hebat, tapi mereka tetap kuat. Lihatlah bagaimana beratnya Bilal bin Rabah
disiksa dengan himpitan batu besar di tengah padang pasir yang panas, ternyata
ujian ini pun berakhir, dan beliau menjadi seorang manusia yang
dihormati.

Keempat, teguhkan dalam hati bahwa saya harus mendapatkan
nilai tambah dari penderitaan ini. Allah tidak akan pernah zalim kepada
hamba-Nya, pasti ada hikmah di balik setiap kejadian. Ada berjuta kenikmatan
yang menanti kita di ujung penderitaan ini, dan kita mesti mendapatkannya.
”Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, berjuang terlebih dahulu,
bersenang-senang kemudian.”

Kita bisa melihat orang yang siap menghadapi ujian, ia
senang karena di akhir ia akan diwisuda. Lihat seorang yang mendaki gunung
tinggi, ia senang karena akan melihat pemandangan indah di puncak. Karena itu,
fokuskan keberuntungan yang akan kita raih di masa datang.

Kuncinya, tumbuhkan keyakinan kepada Allah. Kita akan kuat
menghadapi musibah segetir apapun, kalau kita segera kembali kepada Allah.
Semakin cepat kembali pada Allah, maka akan semakin ringan. Semakin utuh dalam
yakin kepada Allah, maka akan semakin tenang hati kita. Dalam Alquran, Allah SWT
berjanji akan membahagiakan orang-orang yang sabar, yaitu yang tatkala di timpa
musibah, ia bulat kembali kepada Allah. Dan sampaikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan, ”Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami
akan kembali.” (QS Al-Baqarah [2]: 155-156)

Kenapa kita menderita walau hanya karena persoalan kecil?
Sebabnya, kita tidak berhasil secepatnya mengembalikan urusan pada Allah SWT.
Contoh yang kehilangan kendaraan, semakin ingat kendaraan akan semakin sengsara
pula batin kita. Harusnya kita lebih ingat kepada Allah yang memberikan
kendaraan tersebut, bukannya lebih ingat pada kendaraan. Ingat ke kendaraan
milik saya, akan berat. Ingat ke kendaraan milik Allah, akan lebih ringan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

( KH Abdullah Gyimnastiar ) 

Hikmah - Menimbang Perkataan

Wednesday, July 26th, 2006

Tak terhitung sudah berapa banyak kata-kata yang meluncur dari mulut kita
setiap harinya. Namun sayang, kita tidak pernah mendata seberapa banyak
perkataan yang kita ucapkan itu, apakah bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun
orang lain, ataukah sama sekali tak memberi nilai tambah.

Yang
menyedihkan lagi, jika ucapan yang kita keluarkan itu justru perkataan kotor
yang membahayakan, mengundang kontroversi, dan bahkan menyesatkan orang lain.
Hal inilah yang di dalam Alquran diistilahkan sebagai lahwal hadis.

”Di
antara manusia ada orang yang tanpa pengetahuan menggunakan perkataaan yang
tidak berguna (lahwal hadis) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, serta
menjadikan jalan itu sebagai bahan olok-olok. Mereka itu akan memperoleh azab
yang membuat mereka jadi terhina.” (QS Luqman [31]: 6).

Orang yang
terbiasa berbicara ceplas-ceplos cenderung mengeluarkan perkataan yang
sembarangan. Mungkin tidak terlalu berdampak negatif, apabila yang
mengucapkannya orang biasa dan tidak mempunyai otoritas atau pengaruh tertentu
di masyarakat.

Coba bayangkan, jika yang berbicara seorang tokoh yang
dikenal luas oleh berbagai kalangan, seorang yang diburu berbagai media untuk
mendapatkan komentarnya. Sudah tentu, komentar-komentarnya dipublikasikan dan
disebarluaskan di tengah masyarakat.

Dan tidak bisa kita mungkiri, tidak
semua orang bisa menyikapi sebuah komentar dengan kritis dan bijaksana. Maka,
tidak ada jalan lain untuk menghindarkan kekacauan selain menjaga dan menimbang
setiap kata-kata yang dikeluarkan.

”Tidak ada satu perkataan apa pun
yang terucap, kecuali di sana ada Raqib dan Atid (malaikat pencatat perilaku
manusia).” (QS Qaf [50]: 18). Islam sangat memperhatikan etika sosial yang
menjadi tiang penyangga bagi tegaknya bangunan sosial yang kokoh dan
harmonis.

Perintah Nabi Muhammad SAW agar umatnya menjaga lidah dan lebih
baik diam kalau tidak bisa mengucapkan sesuatu yang berdampak positif,
membuktikan hal itu. Kelihatannya sepele dan tidak terlalu penting, karena masih
banyak persoalan bangsa ini yang lebih membutuhkan perhatian. Namun, diakui atau
tidak, suasana negeri yang kian hari kian keruh ini, tidak terlepas dari
aktivitas berbicara yang diartikulasikan lewat pernyataan dan
komentar-komentar.

”Dan siapakah yang mempunyai ucapan terbaik selain
dari ucapan orang yang mengajak kepada Allah, dan dia melakukan amal saleh, dan
menyatakan diri termasuk dalam golongan kaum Muslimin.” (QS Fushshilat [41]:
33).

Ucapan yang baik tidak hanya dalam pengertian spiritual, dan bukan
berupa pidato atau ceramah. Tetapi, ucapan yang bisa menumbuhkan kesadaran
masyarakat agar berbuat yang terbaik dalam hidup ini. (Abdul Gafur )

Sumber: republika, 20 Mei 2006

Nikmat Yang Diambil

Wednesday, July 26th, 2006

Oleh: rifda (DSHnet)

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun.
Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika
sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil
berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang
sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin
memilikinya.

Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti
biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji : Tidak akan
meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah
menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.

Namun
karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya : "Ibu,bolehkah Anisa
memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi… " Sang Bunda
segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.Dibaliknya tertera harga Rp
15,000. Dilihatnya mata
Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.
Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau
bersikap tidak konsisten…

"Oke … Anisa, kamu boleh memiliki kalung
ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini
lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu
depan. Setuju ?" Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan
kaos kaki ke raknya."Terimakasih…, Ibu"

Anisa sangat menyukai dan
menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalungitu membuatnya nampak cantik dan
dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya,
bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang.
Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya
menjadi hijau…
Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan
cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah
cerita, Ayah bertanya "Anisa…, Anisa sayang ngga sama Ayah ?"
"Tentu
dong… Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"
"Kalau begitu, berikan
kepada Ayah kalung mutiaramu…"
"Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil
"si Ratu" boneka kuda dari nenek… ! Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah
sayang,… ngga apa-apa !"
. Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari
kamar Anisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan
cerita, Ayah bertanya lagi, "Anisa…, Anisa sayang nggak sih, sama Ayah >?"

"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah ?".
"Kalau
begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah… Tapi kalau Ayah
mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.. "
Kata Anisa seraya menyerahkan
boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian,
ketika Ayah masuk kekamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika
didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di
atas pangkuan.
Dari matanya,mengalir bulir-bulir air mata membasahi
pipinya…
"Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?"
Tanpa berucap sepatah pun,
Anisa membuka tangan-nya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara
kesayangannya " Kalau Ayah mau… ambillah kalung Anisa"

Ayah tersenyum
mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan
ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk
kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi
Anisa…
"Anisa… ini untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya,
tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"
Ya…, ternyata
Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi
Anisa.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia meminta sesuatu
dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik.
Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa :
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya
tidak ikhlas bila harus kehilangan…

Kaca Jendela yang Kotor

Monday, July 24th, 2006
Dari ruang kerjanya, di sebuah gedung perkantoran yang megah,
seorang pengusaha menertawakan kaca jendela pesaingnya yang berada di seberang
kantornya.

Katanya, "Jendelanya pasti adalah jendela yang paling kotor di
kota ini," ejeknya pada setiap orang yang datang menemuinya.

Suatu hari
seorang bijak mampir ke kantornya. Seperti biasa, pengusaha ini menunjuk ke
seberang kantornya, ke arah kantor pesaingnya, dan berkata, "Lihat betapa kotor
jendela pesaingku itu."

Orang bijak ini tersenyum lalu menyarankan pada
pengusaha ini untuk membersihkan kaca jendelanya terlebih dahulu. Pengusaha ini
pun memenuhi saran dari si orang bijak.

Sesaat setelah kaca jendelanya
dibersihkan ia berkomentar, "Betapa mengherankan, begitu aku membersihkan kaca
jendelaku, pesaingku ternyata juga membersihkan kaca jendelanya. Kaca jendelanya
kini tampak bersih."

Sesuatu yang tampak kotor mungkin disebabkan oleh
pandangan kita sendiri yang buram.

Klub Pengembangan
Kepribadian

Jambore Nasional 2006

Sunday, July 23rd, 2006

Jambore Nasional 2006 Dibuka Presiden, 16 Juli

BANDUNG–MIOL:
Jambore Nasional (Jamnas) 2006 di Kiarapayung, Jatinangor, Kabupaten
Sumedang, yang akan dibuka Presiden, 16 Juli mendatang, akan diikuti
sekitar 30 ribu peserta, 100 orang di antaranya dari luar negeri.

"Para peserta luar negeri, dari Malaysia, Papua Nugini, Filipina dan
Brunei Darussalam. Saat ini, peserta yang mendaftar 21.788 orang, dan
akan mencapai sekitar 30 ribu saat pelaksanaan," papar Ketua Pelaksana
Jamnas 2006 Moh Masduki, Senin (10/7).

Jamnas yang akan berlangsung hingga 23 Juli ini, masih kesulitan
dana. Pasalnya, seperti diungkapkan pengurus Jamnas UM Muchtar, dana
konsumsi dan transportasi dari pemerintah pusat Rp9,2 miliar, belum
cair.

"Untuk mengatasi keterlambatan pencairan dana, kita akan meminta
Pemprov Jabar menyediakan dana talangan. Selain itu, pembayaran peserta
yang masing-masing Rp300 ribu per orang, diharapkan juga bisa menutupi
kebutuhan dana tersebut," tandasnya.

Untuk menyukseskan penyelenggaran Jamnas, Pemprov Jabar juga
membantu dengan dana APBD Rp55 miliar. Dana digunakan untuk membangun
sarana dan prasarana penyelenggaraan Jamnas. BBeberapa kegiatan yang
akan dilakukan dalam Jamnas, di antaranya pendakian gunung, arung
jeram, penyusuran gua dan panjat tebing. Kegiatan petualangan itu
dilakukan di lima wilayah, Gunung Gede, Cianjur, Tangkubang Perahau,
Subang dan arung jeram di Sungai Cimanuk, Sumedang.

Kegiatan lain, panjat tebing, di Citatah, Kabupaten Bandung dan
penelusuran Gua Buni Ayu, di Kabupaten Sukabumi. Digelar juga olah raga
dayung dan olah raga selam yang mengambil tempat di Situ Cileunca,
Kabupaten Bandung.

Muchtar mengungkapkan, dalam Jamnas 2006 akan digelar 70 kegiatan,
terbagi dalam kegiatan umum, ketrampilan, bakti sosial, seni budaya dan
khusus. (SG/OL-02).

sumber media indonesia online
=***=

jambore nasional 2006 diselenggarakan di jatinangor dari 16 juli 2006 sampe 23 juli 2006. konon katanya menghabiskan dana sebanyak 9.2 milyar rupiah. jumlah yang sangat tidak sedikit. sarana dan prasarana seperti pembuatan jalan dibuat untuk persiapan menyambut jamnas tersebut. tapi begitu jamnas dimulai ternyata jalan tersebut belum selesai mungkinbaru 30% saja. sekarang jamnas sudah selesai. apakah sarana jalan yg dibuat baru 30% tersebut akan diteruskan dan diselesaikan?? (mengingat tadinya dibuatnya jalan tersebut karena akan ada jamnas di jatinangor)
mudah2an saja tidak terhenti dan diselesaikan dengan baik (mengingat anggaran yg sudah dikeluarkan negara yg besar)
satu hal yg menjadi kritik adalah setiap malamnya pada acara jamnas ada pergelaran musik (yg terakhir adalah group musik coklat) sungguh ironis sementara bangsa indonesia ini sedang banyak musibah dan banyak minta bantuan misalnya untuk jogja, pangandaran dsb..tp biaya 9.2 M tersebut dipakai diantaranya untuk pergelaran musik tersebut..konon katanya FO (factory outlet) di bandung juga jadi salah satu kunjungan para peserta jamnas..jadi timbul pertanyaan nih.. apakah jamnas itu dipakai untuk hiburan??sekedar jalan2?? refresing saja??
mudah2an saja dalam pelaksanaan kegiatan apa pun nanti yg diselenggarakan di indonesia..acara apa saja bisa lebih menghemat anggaran belanja negara..

hargai kami pembayar pajak di indonesia ini agar pembelanjaan negara ini lebih bisa dikontrol dan dihemat
terimakasih

Benarkah Kamu Cinta Alloh

Wednesday, July 5th, 2006

Engkau tau Alloh SWT tetapi engkau tidak
mencintai-NYA
Engkau dengar seruan-NYA tetapi engkau telat menjawab
seruan-NYA
Engkau tau keuntungan jika bergaul dengan-NYA tetapi engkau justru
bergaul dengan selain-NYA
Engkau tau kemarahan-NYA tetapi engkau justru
memancing-mancing murka-NYA
Engkau tau betapa sakit azab-NYA jika
menentang-NYA tetapi engkau tidak meminta belas kasihan kepada-NYA dengan
menaati-NYA
Engkau merasa sakit hati jika tidak menyebut nama-NYA tetapi
engkau justru tidak mau menyebut nama-NYA dan tidak bertaubat
kepada-NYA
justru engkau berpaling dari-NYA dan cinta akan hal yang bisa
menjauhkan-NYA